Ringkasan Berita
- BMKG memastikan peluang gelombang panas ekstrem (seperti di Eropa) sangat kecil terjadi di Indonesia karena posisi geografisnya yang dikelilingi lautan bertindak sebagai penyangga alami.
- Suhu udara di Indonesia selama musim kemarau umumnya 30-33°C dan dapat mencapai 36°C di beberapa wilayah, tetapi berbeda dengan gelombang panas yang ditandai suhu di atas 40°C dan tidak turun di malam hari.
- BMKG mencatat tren kenaikan suhu rata-rata sekitar 0,3°C per dekade di Indonesia, yang perlu diwaspadai karena kombinasi suhu tinggi dan kelembapan besar berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
- Sebagai antisipasi, BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini suhu panas di beberapa kota besar dan mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari serta menjaga hidrasi.
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peluang terjadinya gelombang panas ekstrem seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa sangat kecil terjadi di Indonesia.
Meski demikian, masyarakat tetap berpotensi merasakan suhu udara yang cukup panas, terutama selama musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan suhu udara di Indonesia memang dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan gelombang panas di Eropa yang mencatatkan suhu di atas 40 derajat Celsius.
“Menurut analisis kami kejadian lonjakan temperatur seperti yang terjadi di Eropa itu masih kecil peluangnya terjadi di Indonesia. Tapi tidak berarti bahwa kita tidak mengalami suhu panas,” kata Sena dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu (1/7/2026).










