​Menyapa Masa Depan NU di Era Agama Data

Oleh: Firman Syah Ali

Andai anda adalah seorang calon Ketum PBNU, apakah anda bisa menjawab pertanyaan di bawah ini dengan presisi :

1. Berapa estimasi jumlah warga NU sedunia?
2. Berapa estimasi jumlah simpatisan NU sedunia?
3. Berapa angka pasti jumlah kader NU sedunia (jalur kaderisasi resmi IPNU, PMII, GP Ansor, Fatayat)?
4. Berapa jumlah orang non NU yang dinaturalisasikan lewat kaderisasi instan?
5. Berapa jumlah musuh NU atau keturunan musuh NU, berdasarkan materi peta kawan dan lawan, yang tiba-tiba dianggap NU karena masuk ke salah satu lembaga/banom?
6. Bagaimana distribusi kader NU ke berbagai profesi strategis dan berapa orang yang sukses di masing-masing profesi?
7. Berapa jumlah kader NU jalur darah biru dan jumlah kader NU jalur keringat aktivis, serta berapa jumlah kader darah biru yang merangkap jalur keringat aktivis?

Kalau anda sulit menemukan jawaban, maka tak pelak lagi, NU sedang mengalami kebutaan data (data blindness). Buta data pada abad ini sama derajatnya dengan buta huruf pada abad-abad lampau. Meminjam istilah Youval Noah Harari, ini era agama data. 

Kita sering mengklaim "90-100 juta warga", namun itu adalah estimasi sosiologis, bukan data by name, by address. Kita belum memiliki Digital Membership Identity yang terintegrasi, sehingga kita juga tidak pernah tau jumlah kader resmi NU. Data di badan otonom (Banom) masih parsial. Data PMII, Ansor, IPNU, dan Fatayat sering tidak tersinkronisasi dalam satu dashboard nasional yang live. 

Tanpa sistem rekrutmen digital yang melacak riwayat (rekam jejak ideologis dan loyalitas), kita tidak bisa membedakan mana pejuang yang "berkeringat" dan mana yang "hanya datang saat ada hajatan". 

Kita memiliki banyak "kader hebat", tapi tidak memiliki peta persebaran (mapping) di mana mereka berada dan apa kontribusi mereka secara terukur. Kita adalah raksasa analog di era digital.

​NU adalah organisasi yang secara sosiologis sangat tebal, namun secara administratif masih "tipis". Selama ini, kita mengelola jutaan jamaah dengan cara-cara konvensional yang mengandalkan kepercayaan (trust) dan tradisi. Namun, di era disrupsi informasi, trust saja tidak cukup. Kita membutuhkan Kedaulatan Data. 

"Data adalah Minyak Baru" (Data is the new oil). Jika kita tidak menguasai data kita sendiri, kita akan kehilangan kedaulatan atas masa depan organisasi kita sendiri, dan penumpang gelap yang akan berdaulat.

Dengan menerapkan prinsip kedaulatan data ini, NU tidak hanya akan menjadi organisasi yang lebih rapi, tetapi juga organisasi yang memiliki bargaining position (posisi tawar) yang kuat secara politik dan ekonomi, karena kita menguasai "bahan bakar" utama masa depan, yaitu Data.

​PENUMPANG GELAP

​Kita sering mengeluhkan adanya pihak-pihak yang tiba-tiba muncul di struktur organisasi, menduduki posisi strategis, namun tidak memiliki rekam jejak (track record) perjuangan sejak dari bawah (IPNU dan PMII).

Mereka adalah "penumpang gelap", yaitu orang-orang yang memanfaatkan bendera NU sebagai kendaraan politik atau ekonomi jangka pendek, tanpa mengerti filosofi Aswaja An-nahdliyyah yang telah dijaga oleh para kiai selama satu abad.

​Mengapa mereka bisa masuk? Karena pintu masuk kita masih berlubang. Tanpa basis data digital yang ketat, siapa pun bisa mengklaim diri sebagai kader melalui proses naturalisasi instan di berbagai level kepengurusan.

​BIG DATA SEBAGAI FILTER

​Ketum PBNU prediktif harus beralih dari manajemen manual ke manajemen data-driven. Program utamanya adalah Sistem Informasi Kader Terpadu (SIKAT NU) yang berbasis Big Data dan Artificial Intelligence.

Setiap kader wajib memiliki identitas digital yang mencatat riwayat kaderisasi, pengabdian, hingga rekam jejak pemikiran. Tidak ada lagi lompatan karier pengabdian organisasi tanpa melalui tahapan yang tercatat dalam sistem.

Penempatan kader di posisi strategis, baik di pemerintahan, BUMN, maupun sektor swasta, didasarkan pada data performa dan loyalitas yang tervalidasi, bukan sekadar kedekatan personal.

​Sistem ini akan mampu melakukan screening terhadap individu yang baru masuk ke Banom. Kita akan tahu secara cepat apakah seseorang memiliki afiliasi yang bertentangan dengan nilai-nilai NU atau apakah mereka murni ingin berkhidmat.

​Dengan Big Data, kita tidak lagi meraba-raba. Kita akan tahu berapa banyak kader kita yang menjadi dokter, insinyur, atau data scientist? kita juga tau siapa kader "darah biru" yang memang berjuang, dan siapa yang hanya menumpang nama?

​EPILOG

​NU sebaiknya tidak lagi menjadi "tumpangan" bagi mereka yang tidak berpeluh keringat di bawah terik matahari kaderisasi. Kita harus kembali dipimpin oleh orang-orang yang paham sejarah, memiliki loyalitas yang teruji, dan kapasitas yang mumpuni.

​Big Data bukan sekadar teknologi, bagi NU, Big Data adalah instrumen kedaulatan. Dengan data, kita bisa menyaring mana kawan sejati, mana musuh dalam selimut, dan mana penumpang gelap. Sudah saatnya NU dipimpin dengan presisi, bukan hanya dengan intuisi.

Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU/Panglima Nahdliyin Bergerak (Nabrak)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: