Prabowo Harus Siaga, Ada 3 Kekuatan Besar yang Bisa Ubah Peta Politik Pilpres 2029

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Pengamat politik Adi Prayitno menilai dinamika politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai mengerucut pada tiga kekuatan besar atau poros politik di luar Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Adi, masing-masing dipimpin mantan presiden dengan pengaruh politik yang masih kuat.

Menurut Adi, poros pertama dipimpin Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang didukung Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan jaringan relawan.

Poros kedua dipimpin Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Partai Demokrat.

Sementara poros ketiga berada di bawah Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bersama PDI Perjuangan (PDIP).

Adi menilai ketiga poros tersebut memiliki peluang besar untuk diperhitungkan dalam konstelasi politik menuju Pilpres 2029, termasuk dalam kemungkinan menjadi mitra politik Prabowo.

"Kenapa tiga poros ini yang relatif dianggap punya kesempatan dan potensial? Ya karena mereka ini, beliau-beliau ini dulunya adalah mantan Presiden Republik Indonesia yang dinilai punya penetrasi dan kekuatan politik yang bisa memajukan calon-calon sendiri di setiap pertarungan-pertarungan politik," ujar Adi dalam kanal YouTube Adi Prayitno Official, dikutip Selasa (21/7/2026).

Namun, menurut Adi, muncul sejumlah pertanyaan apabila Prabowo tidak kembali menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029.

"Misalnya Gibran tidak dipilih oleh Prabowo sebagai calon wakil presidennya untuk maju di 2029 untuk kedua kalinya. Orang bertanya apa yang kemudian akan dilakukan oleh Jokowi? Apakah akan membentuk poros politik sendiri, memajukan Gibran untuk berhadapan dengan Pak Prabowo? Itu kan orang yang bertanya-tanya," ujar Adi dalam kanal YouTube Adi Prayitno Official, dikutip Selasa (21/7/2026).

Ia menilai pertanyaan serupa juga berlaku bagi Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Jika Demokrat dan SBY tidak berkoalisi dengan Prabowo, menurutnya, terbuka kemungkinan mereka membangun poros politik sendiri.

"Apakah Partai Demokrat, apakah Pak SBY dan kekuatan politiknya akan mendesain satu kekuatan politik memajukan Mas AHY sebagai calon presiden di 2029? Itu kan pertanyaan mendasarnya hingga saat ini," jelasnya.

Hal yang sama juga dinilai berlaku bagi PDIP. Apabila Puan Maharani atau tokoh lain dari partai tersebut tidak menjadi pasangan Prabowo, Adi menilai publik akan mempertanyakan langkah politik partai berlambang banteng tersebut.

"Kalau misalnya tidak berjodoh dan tidak bisa berkoalisi dengan Pak Prabowo Subianto minimal sebagai calon wakil presiden, orang bertanya-tanya apakah PDIP akan memajukan calon presiden sendiri?" ujarnya.

Menurut Adi, berbagai kemungkinan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang menarik untuk dicermati menjelang Pilpres 2029, terutama terkait arah koalisi dan strategi masing-masing poros politik.