Petani Menjerit! Harga Garam Rakyat di Sampang Anjlok, Pendapatan Tak Tutupi Biaya Produksi

Ringkasan Berita
  • Harga garam rakyat kualitas KW 1 di tingkat petani Sampang sangat rendah, hanya Rp50.000 per sak 70 kg.
  • Setelah dipotong biaya angkut Rp10.000, pendapatan bersih petani hanya Rp40.000 per sak, yang tidak menutupi biaya produksi.
  • Kondisi ini berulang setiap musim panen dan dikeluhkan petani, di mana pasar dan biaya distribusi semakin mengurangi pendapatan.
  • Petani berharap pemerintah segera ambil langkah untuk menjaga stabilitas harga agar petani mendapat nilai jual yang lebih layak.

SAMPANG,BANGSAONLINE.com - Petani garam di Kabupaten Sampang mengeluhkan rendahnya harga garam rakyat pada musim panen tahun ini.

Harga garam kualitas KW 1 di tingkat petani hanya berkisar Rp50 ribu per sak dengan berat 70 kilogram.

Mohdi, petani garam asal Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, mengatakan harga tersebut masih harus dipotong biaya angkut sebesar Rp10 ribu per sak.

Dengan demikian, pendapatan bersih yang diterima petani hanya sekitar Rp40 ribu per sak.

"Harga garam sekarang Rp50 ribu per sak isi 70 kilogram untuk kualitas KW 1. Itu masih dipotong ongkos transportasi Rp10 ribu per sak, jadi yang kami terima tinggal Rp40 ribu," kata Mohdi, Rabu (22/7/2026).

Mohdi mengelola tambak garam seluas satu hektare.
Menurut dia, harga yang berlaku saat ini belum mampu menutupi biaya produksi yang dikeluarkan petani selama proses pembuatan garam.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga garam rakyat agar petani memperoleh nilai jual yang lebih layak.

"Kalau harga seperti ini terus, petani sulit mendapatkan keuntungan. Kami berharap ada perhatian pemerintah supaya harga garam bisa naik," ujarnya.

Rendahnya harga garam menjadi persoalan yang hampir setiap musim panen dikeluhkan petani di sejumlah sentra produksi garam di Kabupaten Sampang.

Selain dipengaruhi kondisi pasar, petani juga harus menanggung biaya distribusi yang semakin mengurangi pendapatan mereka.

"Selain dipengaruhi kondisi pasar, petani juga harus menanggung biaya distribusi yang semakin mengurangi pendapatan mereka," pungkasnya. (van)