Sejumlah Legenda F1 Buka Suara Soal Spekulasi Kepindahan Max Verstappen dari Red Bull

MILTON KEYNES, BANGSAONLINE.com - Spekulasi mengenai masa depan Max Verstappen di Red Bull Racing kian memanas seiring memasukinya jeda musim panas. Pembalap berkebangsaan Belanda tersebut saat ini tertahan di peringkat keenam klasemen pembalap, tertinggal 110 angka dari pimpinan kejuaraan, Kimi Antonelli.

Dinamika internal Red Bull—seperti tantangan pengembangan program mesin baru hingga hengkangnya sejumlah figur kunci dalam beberapa musim terakhir—memicu tanda tanya besar. Sejumlah legenda Formula 1 pun turut memberikan sudut pandang mereka terkait potensi bertahannya sang juara dunia empat kali tersebut di Milton Keynes.

Meski pembalap berusia 28 tahun itu sempat dihubung-hubungkan dengan potensi kepindahan ke Mercedes maupun McLaren, Verstappen memilih untuk enggan berspekulasi. Ia dilaporkan memiliki opsi untuk mengaktifkan klausul pelepasan dalam kontraknya lantaran posisinya saat ini berada di luar dua besar klasemen.

Mantan pembalap McLaren, Juan Pablo Montoya, meyakini bahwa emosi dan kekecewaan yang sering diluapkan Verstappen di radio tim hanyalah strategi psikologis untuk mendorong performa tim, bukan indikasi kepindahan.

"Menurut saya, Max tidak ingin meninggalkan Red Bull. Anda berada di salah satu tim F1 terbaik—mungkin tim terbaik dalam 20 tahun terakhir, bersanding dengan Mercedes," ujarnya kepada F1.com.

"Anda berada di tempat yang tepat. Memang situasinya telah berubah karena banyak orang yang hengkang, namun performa mereka tetap terjaga. Tahun lalu, mereka hampir saja bangkit dan memenangkan kejuaraan. Saya rasa dia ingin melihat hal itu dari tim, dan tindakannya hanyalah cara untuk memberikan tekanan kepada mereka."

Sementara itu, juara dunia dua kali Emerson Fittipaldi berharap Verstappen memilih bertahan. Kendati demikian, ia menilai jika pembalap asal Belanda itu benar-benar hengkang, hal tersebut akan memicu efek domino yang masif di bursa pembalap.

"Selalu sulit untuk memberikan pendapat mengenai situasi yang sedang terjadi. Saya tidak tahu bagaimana hubungan mereka. Saya tidak tahu apa rencana mereka untuk tahun depan. Max adalah talenta yang luar biasa," jelas pembalap asal Brasil itu.

"Dia memikul beban tim di pundaknya. Menurut saya, dia memiliki loyalitas yang tinggi terhadap tim, dan saya menyukai hal itu. Saya sendiri selalu senang membalap bersama satu tim dalam waktu yang lama, selama mungkin saya bisa. Saya rasa dia memiliki loyalitas seperti itu."

"Tapi mungkin saja dia akan pergi. Jika itu terjadi, situasinya akan seperti permainan kursi musik. Hal itu akan memengaruhi posisi semua orang. Menurut saya, aspek F1 ini menarik. Para penggemar bertanya-tanya, 'Siapa yang akan mengisi posisi itu? Ke mana mereka akan pindah?' Itu adalah bagian dari olahraga ini."

Di sisi lain, mantan pembalap Ferrari, Stefan Johansson, menilai wajar jika Verstappen merasa frustrasi dengan paket mobil yang dimilikinya saat ini.

"Saya bisa memahami rasa frustrasi itu. Jika Anda tidak memiliki mobil yang mumpuni, Anda tidak akan menang," ujarnya. "Belum pernah ada juara dunia yang tidak mengendarai mobil terbaik."

"Itulah kenyataannya. Sebagian besar waktu, dia masih mampu menciptakan keajaiban, dan jelas sekali dia sangat hebat. Saya yakin tidak akan ada kekurangan pilihan baginya! Saya rasa setiap tim akan sangat ingin merekrutnya sebagai pembalap mereka."

Legenda balap Gerhard Berger justru menyarankan agar Verstappen lebih bersabar mendampingi Red Bull yang tengah merintis proyek unit daya mandiri. Ia memprediksi tim akan kembali ke performa puncaknya dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan mendatang.

"Saya penggemar Max. Menurut saya, dia adalah pembalap yang luar biasa," jelas Berger. "Saat melihat Red Bull, mereka membangun mesin yang benar-benar baru. Memang, mereka merekrut tenaga ahli dari perusahaan lain, namun untuk bisa bersaing dengan pengalaman Mercedes atau Ferrari—dan sudah tampil kompetitif pada tahun pertama memproduksi mesin sendiri—itu sebenarnya sangat mengesankan."

"Masalah keandalan yang mereka alami saat ini memang tidak menyenangkan, terutama yang menyangkut komponen seperti sayap, tetapi tim lain juga menghadapi masalah keandalan serupa. Saya rasa jika Max terus bekerja sama secara tenang dengan tim dan mereka berhasil merekrut lebih banyak tenaga ahli, saya perkirakan dalam enam hingga 12 bulan ke depan, mereka akan kembali menjadi tim yang sangat kompetitif."

Pandangan berbeda disampaikan Thierry Boutsen, pemenang tiga gelar Grand Prix. Ia mempertanyakan keberlanjutan masa kejayaan Verstappen jika memutuskan untuk berganti bendera.

"Sulit untuk memastikannya. Mungkin ini saat yang tepat untuk pindah, atau mungkin justru saat yang kurang tepat. Keputusan itu sepenuhnya bergantung pada dirinya dan bagaimana perasaannya," ujarnya.

"Perasaan Anda saat berada di dalam tim itu sangat penting. Saat pindah ke tim baru, tentu saja dia akan merasa nyaman dan mendapatkan dukungan tim. Namun, seberapa lama hal itu akan bertahan? Apakah akan bertahan selama saat dia bersama Red Bull? Saya tidak tahu."

"Saya tidak bisa memberinya saran—dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Saya ingin melihat langkah apa yang akan diambilnya. Menurut saya, hal ini akan sangat menarik bagi dirinya sendiri, bagi dunia F1, dan bagi dunia secara umum. Selama ini posisinya di sana sangat bagus dan dia kerap memenangi balapan. Dia hampir saja menjadi juara musim lalu, dan seandainya dia tidak mengalami masalah di Austria dan Inggris [musim ini], situasinya pasti akan jauh berbeda. Jadi, dia sebenarnya sudah sangat dekat dengan pencapaian itu."