TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com – Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Slamet Wahyudi, mengatakan bahwa persoalan bibit menjadi salah satu kendala paling mendasar yang dihadapi petani kopi saat ini.
Menurut Slamet, jika merujuk pada geografis alam, potensi kopi di Tulungagung masih cukup besar untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi. Namun, petani masih terkendala pada ketersediaan bibit, termasuk akses pasar, dan pendampingan.
“Tahun kemarin ada janji alokasi dari Dinas Kehutanan, tapi belum ada kabar baik. Dari BPDASHL Mojokerto juga tidak kebagian dengan alasan efisiensi yang berdampak bibit tidak bisa mem-back up kebutuhan petani,” kata Slamet kepada BANGSAONLINE, Jumat (7/8/2026).
Melihat kondisi tersebut, Slamet bersama sejumlah pegiat kopi memilih tetap bergerak melalui jalur swadaya. Menurutnya, kebutuhan bibit kopi sebenarnya memiliki peluang serapan yang sangat besar di masyarakat.
“Saya dan Pak Marsono melihat peluang serapan bibit sangat banyak, akhirnya tetap di jalur swadaya,” ujarnya.
Terkait akses pasar, Slamet menilai mata rantai antara sektor hulu dan hilir kopi di Tulungagung belum sepenuhnya terhubung.
Kondisi tersebut menjadi persoalan terutama ketika petani setiap memasuki masa panen raya.
“Sekarang belum berhubungnya hulu hilir sehingga saat panen raya kesulitan pasar, padahal pasar kopi Tulungagung justru ambil di luar kota,” jelasnya.
Menurut Slamet, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kopi tidak cukup hanya dengan memperbanyak tanaman. Produksi petani harus diikuti dengan sistem pemasaran yang mampu menyerap hasil panen.
Apalagi berdasarkan informasi yang diterimanya dari petani, harga green bean kopi di tingkat pasar saat ini cukup menjanjikan. Arabika dapat menembus sekitar Rp90 ribu per kilogram (kg), sedangkan robusta dan ekselsa sekitar Rp85 ribu per kg.
Namun, potensi nilai ekonomi tersebut belum otomatis membuat petani memperoleh pasar yang mudah ketika produksi meningkat.
Slamet menyebut produktivitas kopi di Tulungagung saat ini masih dapat ditingkatkan. Berdasarkan data yang didampinginya, produksi rata-rata berada di kisaran 1,5 ton green bean per hektare.
Ia melihat peluang peningkatan produktivitas masih terbuka, salah satunya melalui pemanfaatan pupuk organik sapi perah yang selama ini belum optimal.
“Sekarang masih landai. Kalau kita dampingi dengan berbagai upaya saya yakin akan maksimal. Banyak pupuk kandang terbuang yang itu menjadi potensi peningkatan produktivitas kopi,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan kopi juga harus disesuaikan dengan karakter wilayah. Kawasan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) ke atas lebih sesuai untuk arabika.
Sementara wilayah di bawah 700 mdpl, termasuk kawasan yang lebih kering di bagian selatan Tulungagung, berpotensi untuk pengembangan robusta, ekselsa dan, liberika.
Slamet mengatakan, pengembangan kopi di Tulungagung bukan sesuatu yang baru. Sejumlah tanaman kopi yang masih hidup bahkan merupakan peninggalan dari berbagai periode pengembangan perkebunan di masa lalu.
Di lereng Wilis, kawasan perbatasan Kediri-Tulungagung, terdapat tanaman kopi peninggalan era kolonial yang diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
Sementara tanaman kopi peninggalan era pemerintahan Presiden Soeharto di wilayah Sendang dan Pagerwojo disebut masih tersebar di petak-petak hutan dan kebun warga dengan luasan lebih dari 50 hektare.
Selain itu, terdapat pula tanaman kopi hasil pembinaan pada era Hutbun serta program pembinaan Bank Indonesia di wilayah Sendang dan Pagerwojo dengan luasan sekitar 15 hektare.
Untuk saat ini, petani kopi aktif yang telah terdata di sejumlah kawasan, Slamet menyebut terdapat sekitar 10 petani di Desa Nyawangan, 15 petani di Desa Nglurup dan sekitar 10 petani di kawasan Geger, Kecamatan Sendang.
Adapun sentra kopi di Kabupaten Tulungagung saat ini antara lain berada di Kecamatan Sendang dan Tanggunggunung.
Selain bibit dan pasar, Slamet menilai aspek pendampingan juga menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, pertanian kopi membutuhkan pengetahuan teknis yang tidak cukup hanya mengandalkan pendampingan pertanian secara umum.
"Pertanian kopi dan kehutanan belum banyak tenaga penyuluh yang bersertifikasi khusus penyuluh kopi," katanya.
Karena itu, pengembangan kopi menurutnya perlu dibarengi peningkatan kapasitas petani, mulai dari pemilihan varietas, budidaya, pemeliharaan, peningkatan produktivitas hingga penanganan pascapanen.
Di sisi hilir, sejumlah pelaku usaha lokal sebenarnya telah mulai mengembangkan produk kopi Tulungagung. Slamet menyebut beberapa di antaranya seperti UMKM Wonocoro, Mbah Badi, Puguh Kopi Alas, Omah Kopi Mandiri dan Kopi Pendekar.
Keberadaan pelaku usaha tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari mata rantai hilir apabila mampu terhubung dengan petani dan sentra produksi.
Menurut Slamet, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan semata-mata soal kemampuan menanam kopi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun ekosistem yang mampu menghubungkan bibit, petani, produksi, pendampingan, pengolahan hingga pasar. (fer/msn)










