Ringkasan Berita
- Guru Besar ITS Ari Santoso menggagas sistem kendaraan otonom terintegrasi (AUV, USV, UAV) untuk mendukung konektivitas, keselamatan, dan pemantauan di wilayah laut, bawah laut, dan udara Indonesia.
- Sistem ini bekerja dengan siklus tertutup yang meliputi measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment untuk menghasilkan keputusan adaptif dan gerakan optimal di lingkungan dinamis.
- Masing-masing kendaraan memiliki peran spesifik: AUV untuk inspeksi bawah laut, USV untuk komunikasi dan pengamatan permukaan laut, serta UAV untuk memperluas jangkauan pengamatan dari udara.
- Teknologi ini dirancang untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia, seperti keselamatan pelayaran, inspeksi infrastruktur bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, dan mitigasi bencana.
- Sistem ini dianggap sebagai teknologi strategis untuk memperkuat kedaulatan NKRI, dengan memandang laut Indonesia sebagai ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Guru Besar (Gubes) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ari Santoso, menggagas sistem kendaraan otonom maritim dan udara untuk wilayah permukaan laut, bawah laut, dan udara.
Teknologi tersebut diwujudkan dalam bentuk autonomous underwater vehicle (AUV), unmanned surface vehicle (USV), dan unmanned aerial vehicle (UAV), untuk mendukung konektivitas laut maupun udara.
Ari mengatakan, kondisi geografis Indonesia kerap memicu tantangan dalam berbagai aspek. Permasalahan ini mencakup konektivitas, keselamatan, komunikasi, dan distribusi antarpulau. Hal ini meliputi keselamatan pelayaran, inspeksi kabel bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga mitigasi bencana. Oleh sebab itu, dibutuhkan teknologi otonom yang mampu bekerja secara terintegrasi.
“Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan,” jelasnya, Jumat (7/8/2026).
Secara konsep, Ari mengungkapkan bahwa sistem kendaraan otonom yang dikembangkan bekerja dalam siklus tertutup atau closed-loop system. Pola tersebut terdiri dari enam komponen utama, yakni measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment.
“Keenamnya saling terhubung dalam aliran informasi dan aksi yang berulang untuk menghasilkan keputusan serta gerakan yang adaptif, aman, dan optimal,” tuturnya.
Mengulik lebih jauh, setiap komponen memiliki fungsi dan peran yang spesifik. Measurement bertugas membaca data sensor, perception memahami lingkungan, sedangkan guidance menentukan arah dan lintasan. Sementara itu, control berperan menjaga kestabilan dan akurasi, actuator menjalankan perintah fisik, serta environment bertindak sebagai sumber gangguan yang harus diantisipasi oleh sistem.
Melalui pengaplikasian tersebut, teknologi AUV, USV, dan UAV dapat bekerja secara optimal di wilayah masing-masing. Pada ranah maritim, lelaki kelahiran 18 Februari 1966 ini membeberkan bahwa AUV ditempatkan sebagai teknologi untuk menginspeksi bawah laut, seperti kabel listrik, pipa, hingga terumbu karang. Di sisi lain, USV berperan sebagai wahana permukaan guna komunikasi dan pengamatan laut.
“Sementara di udara, UAV berfungsi untuk memperluas jangkauan pengamatan,” imbuhnya.
Dengan demikian, sistem kendaraan otonom yang digagas Ari ini menjadi teknologi strategis yang memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas wilayah kepulauannya.
“Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan,” tegas Ari mengingatkan. (msn)










