Ringkasan Berita
- Desa Adat Sade di NTB merupakan pusat pelestarian budaya Sasak, dengan 150 rumah tradisional dihuni sekitar 700 orang yang mempertahankan kearifan lokal.
- Tradisi unik desa ini adalah melapisi lantai rumah dengan campuran tanah liat dan kotoran kerbau dua kali seminggu untuk kehangatan, mengusir nyamuk, mencegah retak, dan menjaga kebersihan.
- Rumah dibangun tanpa paku menggunakan rangka bambu dan atap alang-alang, dengan pintu rendah sebagai tanda hormat, serta memiliki bangunan khusus seperti Bale Tani, Berugak, Lumbung Padi, dan Bale Kodong.
- Masyarakatnya tidak hanya bertani tetapi juga penenun ulung kain tradisional Sasak dan bekerja sebagai pemandu wisata atau penjual aksesori khas Lombok.
- Meski modernitas masuk, Desa Sade tetap mempertahankan tradisi dan arsitektur ramah lingkungan, menjadi daya tarik wisata dan bukti harmoni manusia dengan alam.
BANGSAONLINE.com - Desa Adat Sade di Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya masyarakat Sasak. Desa seluas 5,5 hektare ini dihuni sekitar 700 orang dengan 150 rumah tradisional yang masih mempertahankan kearifan lokal.
Salah satu tradisi unik di desa ini adalah penggunaan campuran tanah liat dan kotoran kerbau untuk melapisi lantai rumah. Meski dianggap aneh oleh sebagian orang, bahan alami tersebut dipercaya menjaga kehangatan, mengusir nyamuk, serta mencegah retakan.
Bahkan, penduduk melapisi lantai dua kali seminggu untuk menjaga kebersihan. Rumah tradisional di Desa Sade dibangun tanpa paku, dengan rangka bambu yang dirangkai secara tradisional.
Atap alang-alang menjaga suhu tetap sejuk di siang hari dan hangat di malam hari. Pintu rumah dibuat rendah agar tamu yang masuk membungkuk sebagai tanda hormat.
Bangunan di desa ini memiliki fungsi khusus, seperti Bale Tani sebagai rumah tinggal, Bale Berugak untuk berkumpul, Lumbung Padi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, dan Bale Kodong untuk pasangan muda.
Selain bertani, masyarakat Desa Sade juga dikenal sebagai penenun ulung yang menghasilkan kain tradisional dengan motif khas Sasak. Sebagian penduduk bekerja sebagai pemandu wisata atau penjual aksesori khas Lombok.
Meski modernitas mulai masuk, Desa Sade tetap mempertahankan tradisi dan arsitektur ramah lingkungan. Keunikan rumah dan budaya masyarakatnya menjadi daya tarik wisata sekaligus bukti harmoni antara manusia dan alam. (mg2/rom)










