Wayang Gedhog, Warisan Nusantara dari Kisah Panji

BANGSAONLINE.com - Ketika membicarakan wayang, kebanyakan orang langsung teringat Mahabarata atau Ramayana. Padahal, Jawa memiliki Wayang Gedhog, jenis wayang kulit yang mengangkat kisah Panji, cerita kepahlawanan asli Nusantara.

Asal-usul nama “Gedhog” memiliki beberapa versi. Ada yang menyebut berasal dari bunyi “dhog… dhog…” hentakan keprak dalam pertunjukan, sementara versi lain mengaitkannya dengan kata “kedog” yang berarti topeng, karena hubungannya erat dengan tradisi Panji dan Wayang Topeng.

Tokoh utama Wayang Gedhog bukan Arjuna atau Gatotkaca, melainkan Panji Inu Kertapati, Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana), Klana Sewandan, dan para Kadeyan.

Cerita Panji yang berasal dari kerajaan Jenggala dan Kediri ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara bahkan ke Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, dan Filipina. UNESCO telah mengakui Naskah Panji sebagai bagian dari Memory of the World.

Wayang Gedhog pernah digunakan sebagai media dakwah karena ceritanya lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa dibanding epos India. Sejumlah naskah tradisional menyebut wayang ini berkembang pada masa Wali Songo, meski hal tersebut masih menjadi kajian akademis.

Kini, Wayang Gedhog jarang dipentaskan dan popularitasnya menurun, kalah oleh Wayang Purwa yang lebih dikenal. Namun, penelitian menunjukkan Wayang Gedhog tetap mencerminkan identitas budaya Jawa yang kuat melalui tokoh, kostum, dan nilai yang dibawanya.

Wayang Gedhog menjadi bukti bahwa Nusantara tidak hanya mewarisi kisah Mahabarata dan Ramayana, tetapi juga memiliki cerita kepahlawanan asli, yakni kisah Panji, yang telah menginspirasi seni dan budaya selama berabad-abad. (mg2/rom)