Ungkap Pembunuh Jenderal Mallaby, Prof Kiai Asep: Pesantren Pusat Perlawanan

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Pondok Pesantren Amanatul Ummah menggelar Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Student Centere Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Senin (17/8/2026) pagi. Acara itu sangat meriah karena diikuti ribuan santri dan para guru yang menampilkan berbagai atraksi hasil kreativitas para santri dan guru itu sendiri.

Pantauan BANGSAONLINE di lokasi acara, para santri Amanatul Ummah menampilkan berbagai atraksi sebagai wujud dari kreativitas, terutama dalam kesenian. Antara lain grup Kanjeng Mbelor. Grup musik ini mirip komunitas musik Kiai Kanjeng asal Yogyakarta yang memadukan gamelan dan musik religi, etnik serta modern.

Grup musik Kiai Kanjeng adalah hasil kreasi Nevi Budianto dan Emha Ainun Nadjib yang kerap melantunkan tembang Jowo Lir Ilir. Lagu ini dikarang oleh Sunan Kalijaga (Raden Said), sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad 16.

Selain Kanjeng Mbelor, para santri juga menampilkan kepiawaiannya dalam marching band, kesenian tari, pasukan pengibar pasukan bendera pusaka (paskibraka) dan kreativitas lainnya.

Dalam pengarahannya, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menceritakan peran para kiai pesantren dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menurut Kiai Asep, pesantren adalah pusat perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah, baik Belanda, Jepang, Inggris maupun sekutu yang dipimpin Amerika Serikat.

Bahkan, tegas Kiai Asep, pejuang bangsa Indonesia yang membunuh Jenderal Mallaby dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah para santri.

“Yang membunuh Jenderal Mallaby adalah tiga santri Pesantren Tebuireng Jombang. Tiga nama santri itu sempat tersimpan dalam surat wasiat yang tak boleh dibuka hingga puluhan tahun. Surat wasiat itu baru boleh dibuka ketika tiga orang itu wafat,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menyampaikan pengarahan dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Student Centre Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Senin (17/8/2026) pagi.

Kiai Asep mengaku tahu para pembunuh jenderal kebanggaan Inggris yang bernama lengkap Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby itu saat mengumpulkan para sejarawan dan tim peneliti untuk penulisan buku sejarah atau biografi pengusulan KH Muhammad Yusuf Hasyim (Tebuireng Jombang) dan KH Abbas bin Abdul Djamil (Buntet Cirebon) sebagai pahlawan nasional pada 2025 lalu.

Menurut dia, penulisan sejarah Kiai Muhammad Yusuf Hasyim dan Kiai Abbas bin Abdul Djamil itu dipimpin Prof Dr Usep Abdul Matin, MA, guru besar sejarah dan peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).

Sekedar informasi, Prof Usep Abdul Matin menyelesaikan S2 di Leiden University Belanda dan Duke Unversity Amerika Serikat. Sedangkan S3-nya ia selesaikan di Monash University Australia.

“Jadi saya tahu nama-nama orang yang membunuh Jenderal Mallaby itu, karena saat rapat tim penulis sejarah itu dibuka surat wasiatnya,” ujar Kiai Asep.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat menjabat sebagai Panglima TNI juga mengakui bahwa pembunuh Jenderal Mallaby bukan TNI tapi para santri. 

"Yang membunuh Jenderal Mallaby bukan TNI, santri yang membunuh," ujar Jenderal Gatot Nurmatyo pada Sptember 2017. 

Begitu juga yang menurunkan atau merobek bendera Belanda di Hotel Orange Surabaya (kini bernama Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Surabaya). Menurut Jenderal Nurmantyo, yang  merobek bendera Belanda itu bukan TNI, tapi santri.

"Yang menurunkan bendera di Orange itu bukan TNI, santri juga," ujar Jenderal Gatot Nurmatyo. 

Kiai Asep juga mengungkapkan bahwa kemerdekaan RI yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 hampir saja lepas. Karena tentara sekutu menyerang Surabaya. Menurut Kiai Asep, Belanda kemudian memanfaatkan serangan sekutu itu untuk kembali menjajah.

“Hadratussyaikh kemudian mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad bahwa berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah fardlu a’in bagi setiap orang Islam yang berada dalam radius jarak 94 kilometer dari tempat kedudukan musuh. Dan siapapun yang gugur dalam perang itu dijamin berstatus syahid di sisi Allah,” ujar Kiai Asep.

Pertempuran Surabaya yang sangat heroik itu, tutur Kiai Asep, dipimpin oleh Kiai Abbas Bin Abdul Djamil Buntet Cirebon. “Ketika Bung Tomo tanya, kapan kita akan menyerang, Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari menjawab tunggu kedatangan Kiai Abbas dari Cirebon,” ujar Kiai Asep.

“Kiai Abbas datang dan tiba di Tebuireng pada tanggal 9 November 1945,” ujar Kiai Asep. “Kiai Abbas langsung memutuskan kita menyerang besok pagi. Pagi-pagi Kiai Abbas bersama para santri Tebuireng berangkat naik kereta ke Surabaya melakukan serangan,” ujar Kiai Asep.

Perang itu memakan waktu 10 hari dan menimbulkan banyak korban. “Sebanyak 30 ribu hingga 40 ribu korban mengambang di sungai Kalimas di Jembatan Merah,” tutur Kiai Asep.

“Berita itu dimuat di The New York Times tanggal 12 November 1945,” ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.

Pihak Belanda juga mengakui bahwa perang 10 November 1945 itu dipimpin oleh para kiai pesantren atau kiai NU. Kantor Berita Belanda The Netherlands News Agency dan juga Netherlands Sources (sumber-sumber Belanda) mengungkapkan bahwa peristiwa pertempuran 10 November 1945 itu tidak terjadi secara kebetulan atau secara tiba-tiba. Peristiwa pertempuran 10 November 1945 itu terjadi secara terorganisir. Perang tersebut dipimpin tanpa rasa takut mati oleh Muhammedan Religious Leader (para pemimpim pengikut ajaran Nabi Muhammad atau pemimpin muslim).

Sekarang, tegas Kiai Asep, bangsa Indonesia kembali dijajah. Tapi kita tak merasa kalau sedang dijajah karena penjajahannya sangat halus dan canggih. 

"Indonesia dijajah oleh Amerika, Jepang, Singapura, termasuk juga dijajah oleh oligarki," ujarya.

Jadi meski kita sudah merdeka selama 80 tahun tapi bangsa Indonesia belum maju, adil dan makmur. Karena itu Kiai Asep menegaskan pentingnya menciptakan empat pilar dunia dari rahim pesantren. Pilar pertama adalah ulama besar dan ilmuwan besar.

Pilar kedua pemimpin yang adil dan pilar ketiga konglomerat besar.

"Konglomerat yang ada sekarang bukan konglomerat seperti yang kita harapkan, karena mereka tidak loman dan tidak punya kepedulian terhadal rakyat, terutama rakyat kecil," ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa pilar keempat adalah profesional yang berkualitas dan bertanggungjawab.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, acara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Amanatul Ummah itu dihadiri ribuan para santri Amanatul Ummah, ustadz dan ustadzah serta mahasiswa Universitas KH Abdul Chalim (UAC).

Dari keluarga Pesantren Amanatul Ummah tampak Dr Afif Zamroni (Gus Afif), suami Ning Iroh (putri Kiai Asep), Ning dr Zahroh dan suaminya, Gus Fadhil, serta Gus Azmi dan istrinya

Aacara itu juga dihadiri semua kepala desa dari Kecamatan Pacet Mojokerto. Tampak juga Pelaksana Tugas (Plt) Camat Pacet Djoko Widjayanto, AP., M.M, Kapolsek Pacet, AKP Mohammad Khoirul Umam, S.E., M.H dan Koramil 0815/16 Pacet Kapten Czi M. Saikhu Anwar.

Sementara yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah Kolonel Inf. Batara Alex Bulo, Komandan Korem (Danrem) 082/Citra Panca Yudha Jaya (CPYJ) Mojokerto.