Kunjungan ke Sumenep, Senator Lia Istifhama Ingatkan Generasi Muda Tak Apatis Berpolitik

Ringkasan Berita
  • Anggota DPD RI Lia Istifhama menyerukan generasi muda untuk aktif berperan dalam merawat demokrasi, bukan sekadar menjadi penonton pasif.
  • Ia menekankan bahwa pemuda adalah calon pemimpin masa depan (syubbanul yaum, rijalul ghad) dan harus mempersiapkan diri dengan wawasan, pemikiran kritis, serta tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
  • Ning Lia menjelaskan bahwa demokrasi tak hanya soal kontestasi politik, tetapi juga perlu dipraktikkan dengan etika santun, keteladanan, dan saling menghormati dalam keberagaman.
  • Ia berharap generasi muda membangun iklim demokrasi sehat melalui diskusi kritis, keberanian menyuarakan aspirasi, dan keterlibatan langsung dalam mencari solusi masalah publik.
  • Ning Lia mengingatkan agar perbedaan pendapat disikapi secara dewasa tanpa merusak persatuan, dan mendorong pemuda untuk tidak apatis karena mereka adalah bagian dari masa depan bangsa.

SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Anggota DPD RI perwakilan Jawa Timur, Lia Istifhama, kembali menyerukan pentingnya partisipasi aktif generasi muda dalam merawat kualitas demokrasi di tanah air.

Dalam agenda kunjungannya di Sumenep baru-baru ini, perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut mengimbau para pemuda agar tidak sekadar menjadi penonton pasif. Ia menekankan bahwa anak muda perlu mengambil peran nyata sekaligus menyiapkan diri untuk menjadi pemelihara arah bangsa di masa depan.

“Kalian calon pemimpin. Kalian itu syubbanul yaum, rijalul ghad. Sekarang kalian pemuda, kelak kalian adalah pemimpin,” kata Ning Lia.

Menurut Senator asal Jatim ini, pepatah syubbanul yaum, rijalul ghad, membawa amanat mendalam bahwa pemuda masa kini adalah pemegang kemudi kepemimpinan esok hari. Oleh karena itu, persiapan matang yang mencakup penguasaan wawasan, pemikiran kritis, serta rasa tanggung jawab sosial dan bernegara menjadi hal yang mutlak dimiliki.

Ning Lia menambahkan, makna demokrasi seyogianya tidak disempitkan hanya pada urusan kontestasi atau mekanisme politik belaka. Lebih dari itu, nilai-nilai demokrasi harus dipraktikkan melalui etika yang santun, keteladanan, serta rasa saling menghormati di tengah keberagaman pandangan.

“Kalau kita berada dalam unsur pemerintahan, kita harus memberikan uswatun hasanah. Kita memberikan pemahaman tentang demokrasi yang baik,” ujarnya.

Ia menaruh harapan besar agar generasi muda terbiasa membangun iklim demokrasi yang sehat. Hal ini dapat diwujudkan melalui budaya diskusi yang kritis, keberanian menyuarakan aspirasi, hingga keterlibatan langsung dalam mencari solusi atas berbagai dinamika publik.

Bagi Ning Lia, silang pendapat merupakan dinamika wajar dalam sistem bermasyarakat. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi secara dewasa agar tidak memicu gesekan yang merusak persatuan nasional.

Langkah konsisten Ning Lia dalam mengedukasi publik ini menjadi bagian dari dorongannya untuk mencetak figur pemimpin masa depan—sosok yang tidak cuma unggul secara intelektual, tetapi juga memegang teguh etika, kepemimpinan yang meneladani, dan tanggung jawab kebangsaan.

“Jangan apatis terhadap demokrasi. Kalian adalah bagian dari masa depan bangsa,” pesannya.