Ringkasan Berita
- Kesehatan merupakan nikmat dan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, disyukuri, dan dimanfaatkan untuk kebaikan sesuai perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
- Islam menganjurkan berikhtiar menjaga kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab, termasuk melalui pemeriksaan berkala, dan melarang membawa diri pada kebinasaan (QS. Al-Baqarah: 195).
- Pemeriksaan laboratorium adalah sarana ikhtiar preventif untuk mengetahui kondisi tubuh secara objektif sebelum muncul gejala, sehingga bukan mencari-cari penyakit tetapi bentuk kewaspadaan.
- Hadis Nabi (HR. Bukhari) mengingatkan bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering diabaikan; menjaga kesehatan sebelum sakit adalah wujud kecerdasan dan syukur seorang Muslim.
- Dalam kerangka Muhammadiyah, kesehatan dipandang secara holistik (jasmani, sosial, spiritual) dan pemeriksaan kesehatan berkala bagian dari menjaga amanah Allah atas tubuh.
Oleh: Rinza Rahmawati S
Kesehatan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat menjalankan ibadah dengan baik, bekerja, belajar, mencari nafkah, mengurus keluarga, serta memberikan manfaat kepada masyarakat.
Sebaliknya, ketika kesehatan terganggu, berbagai aktivitas kehidupan dapat mengalami hambatan. Karena itu, kesehatan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai persoalan jasmani, tetapi juga sebagai amanah dari Allah Swt yang harus dijaga, disyukuri, dan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap pasif terhadap kesehatan dan penyakit. Ikhtiar menjaga kesehatan merupakan bagian dari usaha manusia dalam menjalankan amanah Allah Swt. Hal ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia secara menyeluruh, meliputi aspek jasmani, sosial, dan spiritual. Muhammadiyah juga menekankan bahwa tubuh yang sehat merupakan amanah Allah yang harus dijaga.
Salah satu bentuk ikhtiar dalam menjaga kesehatan pada zaman modern adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan laboratorium.
Kesehatan adalah Amanah Allah Swt.
Dalam Islam, tubuh manusia bukanlah sesuatu yang boleh diperlakukan secara sembarangan. Tubuh adalah titipan Allah SWT yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, menjaga kesehatan merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 195:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).
Ayat tersebut pada konteks asalnya berbicara mengenai pengorbanan dan perjuangan di jalan Allah. Namun, secara umum ayat ini juga memberikan prinsip penting bahwa manusia tidak boleh dengan sengaja membawa dirinya kepada kebinasaan. Dalam konteks kesehatan, prinsip tersebut dapat menjadi landasan moral agar seorang Muslim tidak mengabaikan kondisi tubuhnya dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.
Dengan demikian, menjaga kesehatan bukan berarti manusia takut terhadap penyakit secara berlebihan. Justru sebaliknya, seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal sekaligus berikhtiar. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Berobat ketika sakit, menjaga pola makan, berolahraga, beristirahat, menjaga kebersihan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan merupakan bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan manusia.
Hadis tentang Besarnya Nikmat Kesehatan
Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan umatnya tentang besarnya nikmat kesehatan melalui hadis:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang,” (HR. Bukhari, no. 6412).
Hadis ini memiliki makna yang sangat dalam. Sering kali manusia baru menyadari mahalnya kesehatan setelah mengalami sakit. Ketika tubuh masih sehat, seseorang mungkin merasa bahwa kesehatan adalah sesuatu yang biasa. Namun ketika penyakit datang, seseorang baru menyadari bahwa kemampuan berjalan, bekerja, makan, tidur, berpikir, beribadah, dan melakukan berbagai aktivitas adalah nikmat yang sangat besar.
Karena itu, menjaga kesehatan sebelum datangnya penyakit merupakan bentuk kecerdasan dan rasa syukur seorang Muslim.
Pemeriksaan laboratorium dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut. Pemeriksaan laboratorium bukan semata-mata aktivitas medis, tetapi merupakan salah satu sarana untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih objektif. Melalui pemeriksaan tertentu, seseorang dapat mengetahui berbagai parameter kesehatan yang mungkin belum menimbulkan gejala.
Mengapa Pemeriksaan Laboratorium Penting?
Tidak semua penyakit memberikan tanda yang jelas pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat, dapat bekerja seperti biasa, dan tidak merasakan keluhan berarti, tetapi pada pemeriksaan tertentu ternyata terdapat perubahan pada kondisi tubuhnya.
Misalnya, pemeriksaan laboratorium dapat membantu tenaga kesehatan menilai berbagai hal seperti kadar gula darah, profil lemak, fungsi ginjal, fungsi hati, kadar hemoglobin, serta berbagai parameter lain sesuai kebutuhan dan kondisi seseorang.
Inilah salah satu alasan mengapa pemeriksaan kesehatan secara berkala memiliki nilai penting dalam upaya menjaga kesehatan. Pemeriksaan bukan berarti seseorang sedang mencari-cari penyakit, tetapi merupakan bentuk kewaspadaan dan ikhtiar untuk mengetahui keadaan dirinya.
Dalam prinsip Islam, mengetahui keadaan diri kemudian mengambil langkah yang tepat merupakan bagian dari tanggung jawab. Jangan sampai seseorang baru mencari pertolongan ketika penyakit sudah berada pada kondisi yang lebih berat.
Pemeriksaan laboratorium dapat menjadi bagian dari upaya deteksi dini, tetapi hasil laboratorium tidak boleh ditafsirkan sendiri secara sembarangan. Hasil pemeriksaan harus dibaca bersama kondisi klinis oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Islam Mengajarkan Konsumsi yang Halal dan Thayyib. Menjaga kesehatan juga berkaitan erat dengan apa yang masuk ke dalam tubuh.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (QS. Al-Baqarah: 172).
Kementerian Agama Kota Yogyakarta
Konsep halal dan thayyib memberikan pelajaran bahwa makanan bukan sekadar persoalan boleh atau tidak boleh dikonsumsi, tetapi juga harus memperhatikan kebaikan dan kemanfaatannya bagi kehidupan.
Pola makan yang tidak seimbang, konsumsi berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan kebiasaan buruk dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan. Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya membangun pola hidup yang seimbang.
Pemeriksaan laboratorium dapat menjadi salah satu sarana evaluasi apakah pola hidup yang selama ini dilakukan sudah memberikan dampak yang baik bagi tubuh. Misalnya, seseorang yang merasa sudah menjalani pola hidup sehat dapat melakukan pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk mengetahui kondisi tubuhnya secara lebih objektif.
Dengan demikian, pemeriksaan laboratorium dapat menjadi bagian dari muhasabah kesehatan.
Pemeriksaan Kesehatan sebagai Bentuk Muhasabah
Dalam kehidupan seorang Muslim terdapat konsep muhasabah, yaitu mengevaluasi diri agar kehidupan menjadi lebih baik. Muhasabah tidak hanya berkaitan dengan ibadah dan akhlak, tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap kesehatan.
Sebagaimana seorang Muslim mengevaluasi kualitas ibadahnya, ia juga perlu mengevaluasi bagaimana ia memperlakukan tubuh yang Allah amanahkan kepadanya.
1. Apakah pola makan sudah baik?
2. Apakah aktivitas fisik sudah cukup?
3. Apakah waktu tidur sudah memadai?
4. Apakah kebiasaan sehari-hari membahayakan kesehatan?
5. Apakah ada keluhan yang selama ini diabaikan?
6. Apakah sudah waktunya melakukan pemeriksaan kesehatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari kesadaran untuk menjaga amanah tubuh.
Dalam konteks ini, pemeriksaan laboratorium dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ikhtiar dan evaluasi kesehatan, bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada takdir Allah. Justru, berusaha menjaga kesehatan merupakan bagian dari menjalankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Hubungan dengan Nilai Kemuhammadiyahan
Dalam Muhammadiyah, ajaran Islam tidak hanya dipahami dalam bentuk ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan melalui amal nyata yang memberikan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.
Semangat tersebut dapat dilihat dari perhatian Muhammadiyah terhadap bidang kesehatan dan pelayanan sosial. Kesehatan menjadi salah satu bentuk amal usaha yang memungkinkan nilai-nilai Islam diwujudkan dalam pelayanan kepada masyarakat.
Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, manusia idealnya menjadi pribadi yang memiliki kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial. Menjaga kesehatan diri penting, tetapi membantu orang lain memperoleh kesehatan juga merupakan bagian dari amal kebajikan.
Oleh karena itu, laboratorium kesehatan, rumah sakit, klinik, puskesmas, tenaga medis, tenaga laboratorium, dan berbagai bentuk pelayanan kesehatan dapat menjadi sarana untuk mewujudkan nilai amar ma'ruf, kemanusiaan, pelayanan, dan kemaslahatan umat.
Bahkan, Muhammadiyah melalui pengembangan layanan kesehatan modern menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman. Dalam sistem kesehatan Muhammadiyah, standardisasi data pemeriksaan laboratorium juga menjadi bagian dari pengembangan pelayanan kesehatan.
Pemeriksaan Laboratorium Bukan Sekadar Mencari Penyakit
Ada anggapan bahwa seseorang hanya perlu melakukan pemeriksaan laboratorium apabila sudah merasa sakit. Pandangan tersebut perlu diluruskan.
Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan bukan hanya untuk mencari penyakit, tetapi juga untuk memantau kondisi tubuh, menilai faktor risiko, membantu deteksi dini, dan menjadi bahan pertimbangan tenaga kesehatan dalam menentukan langkah berikutnya.
Namun, pemeriksaan laboratorium juga harus dilakukan secara bijaksana. Tidak semua orang membutuhkan semua jenis pemeriksaan. Jenis dan frekuensi pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, faktor risiko, riwayat keluarga, keluhan, serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Dengan demikian, prinsip Islam tentang tidak berlebih-lebihan juga perlu diterapkan. Menjaga kesehatan tidak berarti melakukan semua pemeriksaan tanpa alasan medis. Yang diperlukan adalah keseimbangan antara ikhtiar, ilmu pengetahuan, kebutuhan medis, kemampuan, dan tawakal kepada Allah Swt.
Kesehatan untuk Mendukung Ibadah dan Produktivitas
Tujuan menjaga kesehatan dalam Islam bukan sekadar agar manusia dapat hidup nyaman. Kesehatan seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah dan memberikan manfaat kepada sesama.
Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang melaksanakan salat dengan baik, berpuasa sesuai kemampuan, menuntut ilmu, bekerja, membantu keluarga, bersedekah, berdakwah, serta melakukan berbagai amal kebajikan.
Karena itu, menjaga kesehatan memiliki dimensi spiritual. Ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan, memperbaiki pola makan, berolahraga, dan menghindari kebiasaan yang merusak tubuh dengan niat menjaga amanah Allah, aktivitas tersebut dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan cara yang benar.
Kesehatan kemudian tidak berhenti menjadi tujuan, tetapi menjadi sarana untuk beribadah dan memberi manfaat.
Menjaga Kesehatan Adalah Bentuk Syukur
Syukur kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Syukur juga diwujudkan melalui tindakan.
Jika Allah memberikan mata, maka mata digunakan untuk melihat kebaikan.
Jika Allah memberikan tangan, maka tangan digunakan untuk bekerja dan membantu.
Jika Allah memberikan kaki, maka kaki digunakan untuk melangkah menuju kebaikan.
Jika Allah memberikan tubuh yang sehat, maka kesehatan tersebut digunakan untuk beribadah dan memberikan manfaat.
Karena itu, ketika seseorang menjaga kesehatannya, sebenarnya ia sedang berusaha menjaga salah satu amanah Allah.
Hadis tentang dua nikmat—kesehatan dan waktu luang—mengajarkan agar manusia tidak menunggu kehilangan kesehatan untuk kemudian menyadari nilainya.
Pemeriksaan Laboratorium sebagai Bentuk Ikhtiar, Bukan Ketakutan
Sebagian orang mungkin merasa takut melakukan pemeriksaan karena khawatir menemukan penyakit. Padahal, mengetahui kondisi kesehatan justru dapat menjadi langkah awal untuk melakukan perbaikan.
Jika hasil pemeriksaan baik, maka seseorang dapat bersyukur dan tetap menjaga pola hidupnya.
Jika terdapat hasil yang perlu diperhatikan, maka seseorang memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dan melakukan tindakan yang diperlukan.
Dengan demikian, mengetahui kondisi kesehatan lebih baik daripada mengabaikannya.
Dalam Islam, seorang Muslim tidak diajarkan untuk menyerahkan segala sesuatu tanpa usaha. Ikhtiar merupakan bagian dari kehidupan. Setelah melakukan ikhtiar, barulah seseorang menyerahkan hasilnya kepada Allah. Inilah keseimbangan antara usaha dan tawakal.
Pada akhirnya, kesehatan merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Manusia tidak boleh meremehkan kesehatan hanya karena saat ini tubuhnya belum menunjukkan keluhan. Justru ketika sehat, seseorang harus semakin bersyukur dan berusaha mempertahankan kesehatannya.
Al-Qur'an mengingatkan manusia agar tidak menjatuhkan dirinya kepada kebinasaan, sementara Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesehatan merupakan salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia.
Dalam perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, menjaga kesehatan dapat diwujudkan melalui pola hidup yang baik, makanan yang halal dan thayyib, kebersihan, aktivitas fisik, istirahat yang cukup, pengobatan ketika sakit, serta pemeriksaan kesehatan yang sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia untuk mengenali kondisi tubuhnya secara lebih objektif. Ia bukan pengganti doa, bukan pula bentuk ketidakpercayaan kepada Allah. Sebaliknya, pemeriksaan kesehatan dapat menjadi bagian dari usaha seorang Muslim dalam menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah Swt.
Karena itu, jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan. Jangan menunggu tubuh memberikan tanda yang berat untuk kemudian melakukan pemeriksaan. Jadikan kesehatan sebagai bagian dari rasa syukur, dan jadikan pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu bentuk ikhtiar.
Sehat untuk beribadah, sehat untuk bekerja, sehat untuk keluarga, sehat untuk umat, dan sehat untuk menebarkan kemanfaatan.
Sebagaimana semangat Muhammadiyah dalam membangun kehidupan yang berkemajuan, kesehatan hendaknya tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.
Sehat adalah amanah, menjaga kesehatan adalah ikhtiar, dan menggunakan kesehatan untuk kebaikan adalah bentuk syukur kepada Allah Swt.










