Ringkasan Berita
- KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi. Kemenangannya mengungguli dua menteri Prabowo yang juga masuk dalam bursa calon.
- Dua menteri Kabinet Merah Putih, Nusron Wahid (ATR/BPN) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul/Sosial), gagal menduduki posisi Ketum PBNU meski sempat mendapat dukungan suara. Nusron menyebut pencalonannya hanya "iseng-iseng berhadiah" dan merasa tidak tepat sebagai pejabat politik.
- Gus Ipul, yang merupakan Sekjen PBNU periode sebelumnya, menyerukan agar proses pemilihan tidak menjadi persaingan berlebihan dan mengajak semua pihak bergandengan tangan. Ia dikenal sebagai kader organisasi yang pernah memimpin GP Ansor.
- Gus Kikin membawa latar belakang yang kuat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus seorang pengusaha dengan pengalaman mendirikan 22 perusahaan di berbagai sektor. Latar belakang keluarga pesantren dan pengalaman bisnisnya menjadi keunggulan dalam kepemimpinan NU.
JOMBANG,BANGSAONLINE.com - Dua Menteri Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto gagal menduduki posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Kedua menteri tersebut adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Diketahui, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin akhirnya terpilih sebagai Ketua PBNU. Ia dipilih melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu menjadi sosok yang mengungguli sejumlah nama yang muncul dalam proses penjaringan.
“Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon yang diajukan, maka anggota secara mufakat memutuskan untuk memilih KH Abdul Hakim,” kata Kiai Anwar dalam Muktamar Ke-35 NU, dikutip Senin (31/8/2026).
Nama Nusron dan Gus Ipul sebelumnya sempat memperoleh dukungan dalam tabulasi usulan bakal calon. Nusron bahkan berada di posisi kelima dengan 207 suara.
Sementara itu, Gus Ipul berada dua tingkat di bawah Nusron. Menteri Sosial tersebut memperoleh 174 suara dan menempati posisi ketujuh dalam tabulasi awal.
Meski berada di lima besar, Nusron sejak awal tidak menunjukkan keinginan untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Ia bahkan menyebut kemunculan namanya dalam usulan sebagai sesuatu yang dilakukan secara bercanda oleh sebagian pihak.
“Saya mengucapkan maturnuwun sanget kepada cabang dan wilayah yang mungkin dengan lucu-lucuan, iseng-iseng berhadiah menulis dan mengusulkan nama saya,” ujar Nusron.
Ia menegaskan statusnya sebagai pejabat politik menjadi salah satu alasan dirinya merasa tidak berada pada posisi yang tepat untuk memimpin PBNU.
Sementara itu, Gus Ipul memiliki latar belakang yang berbeda. Ia dikenal sebagai kader yang tumbuh dari lingkungan organisasi dan pernah memimpin GP Ansor. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU 2022-2027.
Setelah tidak terpilih, ia justru mengingatkan seluruh pihak agar tidak menjadikan proses pemilihan sebagai persaingan yang berlebihan.
“Jangan bersaing habis-habisan. Harapan kita semua ke depan, kita bisa bergandengan tangan supaya bareng-bareng meneruskan perjuangan para muasis,” pungkasnya.
Adapun Gus Kikin membawa latar belakang yang cukup berbeda dari dua menteri tersebut. Selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, ia juga memiliki pengalaman panjang di dunia usaha.
Gus Kikin tercatat sebagai pendiri 22 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor. Bisnis yang pernah dibangunnya mencakup transportasi, pelayaran, kontraktor migas, teknologi informasi, hingga media televisi.
Perjalanan hidup Gus Kikin juga berakar kuat dari lingkungan pesantren. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dan tumbuh di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang.
Ia juga pernah belajar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Jombang. Latar belakang keluarga pesantren tersebut kemudian berlanjut hingga dirinya dipercaya mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan PBNU.










