Bongkar Dugaan Pungli Parkir, Wali Kota Surabaya Ancam Ganti Oknum Jukir hingga Pejabat Dishub

Ringkasan Berita
  • Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memerintahkan pemeriksaan menyeluruh sistem parkir kota setelah ada laporan jukir yang diduga masih dimintai setoran tunai ilegal oleh oknum Dinas Perhubungan.
  • Temuan investigasi menunjukkan selisih antara laporan setoran jukir dengan catatan resmi yang masuk ke Bank Jatim, serta ketidakcocokan data penggunaan voucher parkir.
  • Wali Kota mengancam akan mengganti seluruh personel, mulai dari jukir, pengawas, hingga pejabat Dishub, jika masih ditemukan transaksi tunai atau jika ada pemeriksaan aparat penegak hukum.
  • Eri menegaskan komitmennya bahwa seluruh transaksi parkir harus menggunakan sistem non-tunai (QRIS) untuk mencegah kebocoran dan merencanakan melibatkan anak muda Surabaya untuk mengambil alih lokasi parkir bermasalah.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menginstruksikan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem pengelolaan parkir di Kota Pahlawan. Langkah ini diambil menyusul laporan dugaan penarikan setoran tunai secara ilegal kepada para juru parkir (jukir).

Eri bahkan menegaskan tidak segan-segan mengganti jukir, pengawas, hingga pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya jika masih ditemukan praktik transaksi tunai di lapangan.

Praktik janggal ini diungkap oleh Didit, seorang jukir yang mengaku tetap ditagih setoran tunai oleh oknum Dishub, padahal titik tempatnya bekerja sudah resmi terdaftar di Bapenda dan menerapkan sistem digitalisasi.

"Di tempat saya bekerja ini masih ada pungutan. Istilah pungutan itu yang dari Dishub. Saya cuma ingin menanyakan legalnya saja. Jadi ini sebenarnya memang ilegal atau legal," kata Didit, Senin (31/8/2026).

Didit mengaku bingung karena jukir di posisi serba salah. Di satu sisi Pemkot Surabaya gencar menggaungkan sistem non-tunai, tetapi di sisi lain oknum di lapangan tetap meminta setoran uang tunai.

"Karena kan kita sudah terdaftar dan ada di Bapenda, istilahnya sudah berjalan digitalisasi. Tapi kok masih ada penarikan secara tunai. Jadi apa yang pemerintah tentukan, ya itu yang kita harus jalani. Jangan ada kayak oknum-oknum lagi yang istilahnya menjadikan itu jadi pungli. Kalau memang (non-tunai) sudah (dijalankan), monggo lah kita sama-sama belajar non-tunai," keluhnya.

Dishub Temukan Selisih Pendapatan dan Voucher

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Dishub Kota Surabaya, Trio Wahyu Bowo, langsung mengusut aliran setoran jukir hingga pencatatan pada kepala pelataran (katar) dan transfer ke Bank Jatim. Hasilnya, ditemukan adanya kejanggalan pada data keuangan.

"Ada salah satu jukir yang menyatakan sudah menyetorkan beberapa rupiah. Tapi ketika masuk ke katar, masuk ke dalam atau ditransferkan ke Bank Jatim, itu kami periksa di dalam memang terdapat beberapa selisih pendapatan," akui Trio.

Trio menambahkan, pihaknya juga menemukan ketidaksesuaian antara data penggunaan voucher parkir di lapangan dengan laporan resmi yang ia terima.

Ancam Sapu Bersih Oknum dan Libatkan Anak Muda

Wali Kota Eri Cahyadi mengapresiasi keberanian jukir yang melaporkan indikasi penarikan ganda tersebut. Laporan itu mengungkap bahwa lokasi usaha/persil ditarik uang tunai, sementara area tepi jalan umum (TJU) juga turut dipungut.

Eri kembali mengingatkan bahwa seluruh transaksi parkir di Surabaya wajib menggunakan QRIS atau metode non-tunai lainnya untuk menutup celah kebocoran.

"Saya masih banyak melihat pembayaran yang dilakukan secara tunai. Saya juga sudah menyampaikan hal ini kepada Trio (Kepala Dishub)," tegas Eri.

Pria nomor satu di Pemkot Surabaya itu mengancam akan merombak total personel di lini pengelolaan parkir jika masalah ini tidak segera dibenahi, terlebih apabila ditemukan pelanggaran oleh aparat penegak hukum (APH).

"Kalau kondisi seperti ini tidak bisa diperbaiki, apalagi jika ada pemeriksaan dari kepolisian, semuanya akan saya ganti. Sudah, ini periksa dan ganti orang, mulai dari nol, dengan sistem yang baru. Baik itu di Dishub, pengawas, maupun di jukir. Pokoknya kalau jukir hari ini tidak menggunakan non-tunai, masih menerima uang cash, langsung saya ganti orang lain," cetusnya.

Bahkan, Eri merencanakan untuk merangkul generasi muda Surabaya guna mengambil alih pengelolaan parkir di lokasi-lokasi yang jukirnya membandel.

"Saya ingin anak-anak muda Surabaya yang saya minta untuk mengganti. Ayo, ini Surabaya rumah kita. Jadi, mari kita jaga Surabaya bersama-sama," pungkasnya. (ari/rev)