Ringkasan Berita
- 62,9% responden survei Parameter Politik Indonesia tidak mengetahui aktivitas politik Joko Widodo dalam membantu membesarkan PSI, menunjukkan informasi ini belum menjangkau publik luas.
- Hanya 13% dari yang mengetahui aktivitas Jokowi untuk PSI menyatakan tertarik bergabung dengan partai tersebut, sebuah potensi dukungan yang masih perlu direalisasikan.
- Survei mengungkap 34,8% responden yang mengetahui kegiatan Jokowi justru tidak tertarik memilih PSI, mengindikasikan bahwa faktor Jokowi bukan jaminan otomatis untuk perolehan suara.
- Realiasi potensi dukungan dari mengetahui aktivitas Jokowi sangat bergantung pada kerja-kerja politik yang akan dilakukan PSI ke depan, bukan sekadar keterkaitan dengan figur mantan presiden.
- Keterlibatan Jokowi dalam agenda PSI pasca-jabat menjadi perhatian penting dalam dinamika politik nasional, meski dampak elektoralnya masih perlu dibuktikan melalui strategi partai.
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Sebanyak 62,9% responden survei Parameter Politik Indonesia mengaku tidak mengetahui aktivitas politik Joko Widodo untuk membantu membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan hanya 37,1% masyarakat yang mengetahui aktivitas politik Jokowi tersebut. Temuan itu merupakan salah satu bagian dalam survei terbaru yang mengukur elektabilitas partai politik sekaligus sejumlah isu kekinian.
"Dari masyarakat yang menyatakan tahu kalau Jokowi itu blusukan dan bekerja untuk PSI, kira-kira begitu, ada sekitar kurang lebih 13,0% yang menyatakan tertarik untuk bergabung dengan PSI," ujar Adi dalam pemaparan hasil survei di Kanal YouTube Parameter Politik Indonesia, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Data tersebut menunjukkan informasi mengenai aktivitas Jokowi untuk PSI belum menjangkau seluruh responden. Dari 1.200 orang yang disurvei, lebih banyak responden yang mengaku tidak mengetahui aktivitas tersebut dibandingkan dengan mereka yang mengetahuinya.
Di antara responden yang mengetahui Jokowi bekerja untuk membesarkan PSI, sekitar 13% menyatakan tertarik bergabung dengan partai tersebut.
Namun, angka itu perlu dipahami sebagai potensi ketertarikan dan tidak secara otomatis menggambarkan dukungan elektoral terhadap PSI.
Adi mengatakan temuan tersebut menunjukkan adanya potensi dukungan terhadap PSI dari masyarakat yang mengetahui aktivitas Jokowi. Menurutnya, faktor Jokowi dapat menjadi salah satu alasan munculnya ketertarikan terhadap PSI di kalangan responden.
"Artinya apa? Dari 37% masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13% yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi," ujar Adi.
Meski demikian, keterlibatan Jokowi dalam aktivitas politik PSI belum dapat dianggap sebagai jaminan bertambahnya jumlah pemilih partai tersebut. Adi menegaskan realisasi potensi tersebut masih bergantung pada langkah politik yang dilakukan PSI ke depan.
"Jadi kalimat potensi tertarik bergabung dengan PSI itu memang jumlahnya besar karena faktor Jokowi, tapi ingat namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI. Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang," terang Adi.
Temuan survei tersebut juga menunjukkan adanya responden yang mengetahui aktivitas Jokowi, tetapi tidak tertarik memilih PSI. Sebanyak 34,8% responden menyatakan tidak tertarik memilih PSI, sedangkan 28,1% menyatakan biasa saja dan 24,2% lainnya tidak memberikan jawaban.
Dengan demikian, aktivitas politik Jokowi untuk PSI belum sepenuhnya diketahui publik yang menjadi responden survei. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan tingkat keterpaparan masyarakat terhadap aktivitas politik Jokowi bersama PSI masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Jokowi sendiri diketahui beberapa kali hadir dalam agenda PSI setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Kehadirannya dalam kegiatan partai tersebut menjadi perhatian karena posisi dan pengaruh politik Jokowi masih menjadi bagian dari perbincangan menjelang dinamika politik nasional berikutnya.










