Bibit Santri Intelektual Jawa Timur Tumbuh Pesat di Mesir

KAIRO, BANGSAONlINE.com-Geneologi keilmuan santri Jawa Timur bersambung dengan Universitas Al Azhar Mesir sejak abad pertengahan ke-19 atau sekitar tahun 1850 M. Saat itu diwakili oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo dari Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur. Rintisan Kiai Abdul Manan itu kemudian memotivasi santri lain. Bahkan puluhan ribu santri dari berbagai pesantren – khususnya di Jawa Timur - kemudian mengikuti jejak Kiai Abdul Manan belajar ke Al Azhar.

Pada tahun 2020 Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memperkuat tradisi intelektual santri itu ke Al Azhar. Lewat Program Beasiswa Santri Pondok Pesantren (BSPP), Pemerintah Jawa Timur membuka pendaftaran khusus untuk kuliah di perguruan tinggi Islam legendaris itu. Pada tahun 2021/2022 Gubernur Khofifah melepas 30 santri beasiswa berangkat dan belajar di Universitas Al Azhar Mesir. 

Bagaimana gambaran umum para santri Jawa Timur yang belajar di Universitas Al Azhar Mesir sekarang? Nah, Prof M. Mas’ud Said, PhD (Direktur Pascasarjana Unisma dan Wakil Ketua Umum PP ISNU) dan Prof Dr KH Abdul Halim Soebahar (Ketua MUI Jatim dan Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur) serta Dr KH Mauhibur Rokhman (Rektor Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto) sekarang sedang berada di Mesir. Di bawah ini Prof Mas’ud Said mengirimkan catatan kepada BANGSAONLINE. Simak laporannya.

“Khofifah sedang menemukan jalan bagaimana memperbaiki marwah Islam di Indonesia dengan memberikan biasiswa S1 dan Program Magister di Universitas Islam terkemuka dunia,” tulis Mas’ud Said kepada BANGSAONLINE, Sabtu 26 September 2026.

Menurut dia, mahasiswa asal Jawa Timur di Al Azhar yang sedang belajar itu akarnya terlihat kuat, buahnya manis. “Bak tanaman anggur yang menyegarkan, atau hamparan sawah hijau kebudayaan Islam, kader kader Jatim sudah tumbuh dan berbuah segar itu mendalam seperti akar yang menguatkan batang, buah dan ranting,” tambah Mas’ud Said.

“Sebagian besar mahasiswa yang saya wawancarai di kampus Azhar tak hanya kuat kitab kitab klasiknya, tak hanya tangguh, sebagaian mereka adalah juara di kampusnya dan menang di kompetisi internasional yg diikuti dengan kriteria dan persaingan internasional secara ketat,” ujarnya lagi.

Ia menuturkan bahwa mahasiswa asal Jatim yang merupakan tanaman kebudayaan Khofifah sering meraih juara. Bahkan, tutur Mas’ud, mahasiswa Jatim sudah naik kelas, saking seringnya juara. Mereka menjadi juri di even internasional.

“Bangunan peradaban itu soft, sangat bermakna tanpa hingar bingar, tapi lama. Tidak seperti musik ekonomi yang hingar bingar dan berisik seperti politik Indonesia yang kadang anomaly,” ujarnya.

Menurut dia, Jawa Timur mulai harum namanya di Mesir. “Mesin game changing, anak anak muda dari desa desa ini bergerak, calon ulama dari pelosok Jatim dan dari pondok pondok pesantren rata-rata salaf dengan bahasa Arab yang excellent. Karya karyanya mulai muncul. Baik buku, review maupun artikel,” ujarnya.

“Tentu kaderisasi ini juga disumbangkan oleh ponpes-ponpes yang mengirimkan mahasiswa secara mandiri seperti Ponpes Darussalam Gontor, Ponpes Amanatul Ummah, Ponpes DALWA Bangil, Pesantren Tebuireng Jombang dan belasan lainnya,” ujar Mas’ud Said.

Menurut dia, tanaman kader Al Azhar ini adalah calon ulama dunia Islam baru -yang menurut Grand Syaikh Azhar Ahmad Thayeb- bisa mempengaruhi arus kader muslim moderat yang gigih, ulama yang sufi mandiri dan berprestasi serta "menolong agama Allah".

Mas’ud Said mengutip fatwa Grand Syaikh. "Yakin bahwa hanya dengan cara menanam buah segar, menguatkan tanaman kader muslim nomor wahid jumlah yang jumlahnya lebih banyak,  dunia muslim bisa tertolong dari kebodohan modern," demikian fatwa Grand Syaikh.

Menurut Mas’ud Said, sebagian besar mahasiswa Jawa Timur yang studi di Al Azhar sangat produktif.  “Banyak menjadi juara baca kitab klasik, meresensi buku utama para Syaikhu Azhar, dan menerjemahkan berbagai kitab penting, serta memiliki soft skill yang kuat karena sebagian mereka riyadhah,  puasa, shalat malam, sebagian besar mereka hidup sederhana, jos - jis - ngirit, dengan cara memasak sendiri atau gotong royong,” ujar Mas’ud Said lagi.

Mas’ud Said bersama tim LPPD Jatim, Prof Halim, Dr KH Mauhibur Rokhman dan dewan penguji tamu bertandang ke tempat-tempat kos, apartemen, rumah rumah sewa mereka, di kawasan Jl Achmad Fahim High Tsabik.

Ia mengaku sempat berdialog dengan para mahasiswa itu. “Rerata kader punya spirit kelas satu, saya bangga bisa diskusi dengan cendikiawan muda dengan Al Qur'an yang mendalam. Muda, berkelas, berprestasi, mandiri dan full spirited,” ujarnya.

Menurut dia, diskusi mendalam dengan mereka bak membuka hati, membuka mata akademik dan kecerdasan diri. Bahasa Arab dan baca kitab mereka rata rata istilahnya mumtaz. Kemampuan mereka hampir sempurna, tak diragukan lagi.

Ia menilai bahwa pandangan mahasiswa Jawa Timur mengenai kebudayaan Islam dan ilmu Islam masa depan klir wasathiyahnya.

“Saya yakin tanaman kader ini subur dan mewarnai Islam Indonesia 5 - 10 tahun mendatang, menguatkan vitamin dan energi transformasi kebudayaan unggul yang ditunggu-tunggu,” ujarnya sembari mengatakan bahwa ini adalah tanaman penting Khofifah dalam membuat Islam Indonesia masa depan lebih hebat dan terukur, strategis dalam hiruk pikuk agama yang problematik, di tengah arus ketidak pastian kebudayaan Indonesia sebagaimana didorong oleh KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, atau ahli tafsir seperti Prof. Dr. M. Quraisy Shihab atau alumni Al Azhar lainnya.

Ia mengatakan, setelah berpengalaman beberapa tahun, mulai tahun 2025 Pemprov Jatim melalui Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah meningkatkan program strategisnya dengan memfasilitasi  60 mahasiswa S2 yang memenuhi syarat.

“Ini program sudah naik kelas. Tentu dengan pengaruh lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut dia, Jawa Timur telah sukses dan menjadi pioner mendidik dan mengkader calon ulama muda berbasis pesantren di salah satu kampus Al Azhar tersohor dan tertua di dunia ini.

Ia mengatakan bahwa Indonesia tak boleh kalah dengan Malaysia yang setiap negara bagiannya kuat berlomba menanam kader muslim di kampus Azhar besar-besaran.

“Juga tak boleh di belakang langkah negeri Brunei Darussalam, yang menanam modal inti ini secara serius dan tetata rapi, bisa terlihat dari kebijakan raja Brunei untuk menghindarkan kekacauan pemahaman agama yg keras, tanpa kuat akar multikulturalismenya,” ujarnya.

Ia juga melihat bahwa China diam-diam menanam tumbuhan yang sama. “Bahkan suasana kompleks mahasiswa Al Azhar sekarang diisi kelompok mahasiswa dan pasangan muda China yang  tahun belakangan ini membangun jembatan tol menguatkan keilmuan Islam masa depan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa Pemprov Jawa Timur sudah menjalankan program strategis ini untuk 123 mahasiwa strata S1 sejak tahun 2021 sudah meluluskan 28 sarjana berbagai bidang keagamaan dan ke-Islaman, bidang tafsir, hadist, fiqih ushul fiqih dan sejarah peradaban Islam, bahkan tsurats atau kitab kitab klasif yang mahal nilainya.

Menurut dia, Pemprov Jatim berencana menyalip Malaysia yang sudah lama menyediakan pemukiman atau tempat yang layak untuk studi disamping pendampingan belajar yang layak menjamin kelangsungan belajar dan alumni yang kuat.

“Khofifah memonitor kondisi pemukiman dan motivasi -  menguatkan komitmen belajar, menguatkan keunggulan mahasiswa secara optimal dan menguatkan Islam berkebudayaan yang wasathiyah,” ujarnya.