“Belum ada satu tahun. Setahu saya baru kali ini buat ulah yang merugikan orang,” jelasnya.
Disinggung soal desanya yang dikenal sebagai zona merah, dia tidak mengelak. Menurut dia, anggapan itu sudah ada sejak lama. Sebab, sekitar dua puluh tahun yang lalu, banyak pelaku kejahatan yang menjadikan Sawocangkring sebagai markas sebelum dan setelah melakukan aksi kriminalitas. “Tapi, itu dulu. Sekarang sudah banyak berubah,” katanya.
Dia menjelaskan, ada tiga dusun di Desa Sawocangkring. Masing-masing adalah Sawo, Cangkring, dan Lumbang. Dan, nama terakhir adalah kampung kedua pelaku. “Dari tiga dusun, pemuda Lumbang memang dikenal yang paling nakal,” ucapnya.
Menurut dia, warga sempat tidak menyangka bahwa pelempar batu adalah Dhoni. Sebab, selama ini dia dikenal sebagai pemuda yang santun. Buktinya, Dhoni yang lulusan pondok pesantren adalah ketua remaja masjid (remas) desa. “Orangnya pintar,” ungkapnya.










