Sabtu, 08 Mei 2021 19:16

Transaksi Export Center Surabaya Ditarget Capai US$64 Juta, Begini Langkah Kadin Jatim

Rabu, 24 Maret 2021 17:03 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Nanang Fachrurozi
Transaksi Export Center Surabaya Ditarget Capai US$64 Juta, Begini Langkah Kadin Jatim
Sosialisasi di Graha Kadin Jatim, Selasa (23/3/2021). (foto: ist)

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gerak cepat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur untuk menyosialisasikan keberadaan Export Center Surabaya (ECS) sudah mulai dilaksanakan. Tahap awal, sosialisasi dilakukan secara offline dan online di Graha Kadin Jatim, Selasa (23/3/2021) kemarin.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Kadin Kabupaten/Kota se-Jatim, perwakilan Kadin Bali, NTT, NTB, dan seluruh Kadin Kalimantan, serta pelaku UMKM.

Seperti diketahui, pendirian pilot project ECS oleh Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan bersama Kadin Jatim ini memiliki wilayah kerja Jatim, Bali, NTT, NTB, dan seluruh Kalimantan. Lembaga ini didirikan dengan tujuan peningkatan kinerja ekspor dalam negeri, khususnya UMKM dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional akibat Covid-19.

Kepala Pengelola Export Center Surabaya Tommy Kaihatu yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim mengungkapkan bahwa ECS memiliki berbagai target yang cukup besar, salah satunya adalah nilai transaksi UMKM baru ekspor mencapai US$64 juta per tahun.

BACA JUGA : 

Lantik Pengurus Baru, Kadin Kota Kediri Berkomitmen Wujudkan UKM Semakin Mendunia

Ekonomi Jatim Bangkit! Ini Data Detailnya!

Polda Jatim dan PT. Semen Indonesia Siap Kerja Sama Jaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Semen

Soal THR, Kadin Jatim Berharap Semua Pihak Bisa Memahami

“Target ini tidak kecil karena waktunya tinggal 10 bulan. Selain itu juga ada target lain yaitu jumlah layanan konsultasi dan pendampingan mencapai 750 layanan, peningkatan nilai COO atau Certificate of Origin naik 5 persen serta target tambahan memunculkan UMKM baru ekspor sebanyak 250 UMKM. Makanya harus gerak cepat untuk menyosialisasikannya,” ujar Tommy Kaihatu, Selasa (23/3/2021) petang.

Sosialisasi menjadi penting agar pelaku UMKM dan IKM mengetahui keberadaan Export Center Surabaya beserta tugasnya. Selain mendapatkan tugas memberikan layanan konsultasi dan pendampingan, ECS juga memiliki tugas untuk berikan buyer inquiry atau informasi tentang pembeli yang ada di dunia dengan harapan bisa disinergikan dengan UMKM.

“Pekerjaan rumah kita banyak, menjahit luar dan dalam untuk mengoptimalkan potensi UMKM ini agar bisa melakukan kegiatan ekspor. Kita harus menyiapkan UMKM kita, mengurai persoalan mereka, dari kualitas produk, pembiayaan, legalitas, dan perizinan hingga persoalan SDM-nya,” terangnya.

Oleh karena itu, Kadin Jatim juga akan melakukan pemetaan yang nantinya dilanjutkan dengan melakukan pembinaan dan pelatihan. Pemetaan ini diperlukan agar UMKM yang mendapatkan pendampingan tidak hanya UMKM yang sama dengan UMKM yang telah mendapatkan pendampingan dari sejumlah BUMN dan lembaga lain. “Agar tidak tabrakan dengan pembinaan di lembaga lain, maka data akan kita integrasikan. Ini juga untuk mempermudah dan mempercepat langkah,” tandas Tommy.

Dalam hal peningkatan produk, keberadaan ECS akan disinergikan dengan program Rumah Kurasi Kadin Jatim yang diinisiasi oleh Kadin Kota Kediri dan Bank Indonesia Wilayah Kediri. Saat ini, program Rumah Kurasi juga sudah mulai jalan dengan melakukan sertifikasi instruktur pemeriksaan produk UMKM. Harapannya nanti, jika dalam setiap daerah ada 10 kurator produk UMKM, maka peningkatan kualitas produk bisa dicapai dengan cepat.

“Dan ini juga akan menjadi solusi keterbatasan volume produksi UMKM. Kalau kualitas produk bisa diseragamkan, maka untuk memenuhi permintaan dengan jumlah yang besar dari luar negeri bisa dengan mudah terpenuhi dari banyak UMKM,” ujarnya.

Di sisi lain, program ini juga akan disinergikan dengan sejumlah universitas yang memiliki orientasi entrepreneur seperti Universitas Ciputra (UC). Di UC, ujarnya, hampir seluruh mahasiswa memiliki usaha, termasuk usaha keluarga yang selama ini sudah besar tetapi masih belum merambah pasar luar negeri.

Sementara untuk mendapatkan buyer atau pembeli luar negeri, Kadin Jatim juga akan berkoordinasi dengan Kemendag dan sejumlah pihak terkait data. Data, ujarnya, bisa didapat dari INA Expo melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), melalui Kedutaan Besar RI serta dari Diaspora Indonesia.

“Tantangan berikutnya adalah soal legalitas atau perizinan karena di Indonesia, masing-masing lembaga memiliki aturan masing-masing yang dititipkan ke Bea Cukai. Ini nanti kita minta kemudahan bagi UMKM yang melakukan ekspor melalui ECS. Kuncinya adalah kolaborasi dengan banyak pihak, mulai dari lembaga dan dinas terkait, universitas, serta seluruh Kadin yang masuk wilayah kerja kita. Semua potensi kita gerakkan agar tidak jalan sendiri-sendiri karena ini adalah proyek nasional,” ujar Tommy.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Tb. A. Machrodja mengungkapkan bahwa ECS adalah kelanjutan dari program FTA Center. FTA Center hanya memiliki tugas sosialisasi apa yang telah dilakukan Kemendag agar UMKM dan pelakiu bisnis memahami tentang sejumlah kerja sama dan kebijakan yang telah dibuat bersama negara lain.

Karena UMKM sangat antusias dan banyak UMKM di Jatim mendapatkan predikat sangat baik, maka program FTA Center dilanjutkan dengan pendirian Export Center Surabaya. Dalam program ECS ini, telah ada sejumlah target yang telah ditetapkan, di antaranya jumlah layanan, transaksi yang lapor yang harus dicapai, hingga penambahan jumlah UMKM baru yang MoU menembus pasar luar negeri. Untuk itulah Kemendag bekerja sama dengan Kadin Jatim, sebagai lembaga nonprofit yang berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi dan bisnis.

“Memang ini tidak mudah. Tetapi saya melihat sumbangsih Jatim terhadap ekonomi nasional tingkat dua. Ini luar biasa. Saya optimistis target bisa tercapai, ini harapan saya. Jika kemudian tidak tercapai ini bisa dievaluasi karena ini pilot project. Apa yang kurang, nanti kita perbaiki bersama,” pungkasnya. (nf/zar)

Awal Mula Tarawih Cepat di Ponpes Hidayatullah Al Muhajirin Bangkalan
Jumat, 07 Mei 2021 23:44 WIB
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Ada fenomena yang selalu viral setiap Bulan Ramadan, yakni Salat Tarawih Cepat. Jika di Indramayu ada pesantren yang menuntaskan salat tarawih 23 rakaat dalam durasi hanya 6 menit, di Bangkalan juga ada pesantren ya...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 08 Mei 2021 09:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Genre baru persuratkabaran dimulai dari Singapura. Koran terkemuka di negeri singa itu mengubah diri menjadi not for profit. Perubahan drastis ini dilakukan setelah mengalami kemerosotan yang terus terjadi.Tapi apa beda...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...