Kini sebaliknya. Publik sudah paham bahwa para buzzer adalah corong politik yang hanya bisa membual. Sebagai corong politik mereka bisa bekerja kepada kepada penguasa atau penentang penguasa. Tergantung siapa yang membayar.
Lalu kenapa dikatakan membual? Pertama, mereka bekerja asal serang untuk menciptakan kegaduhan, tanpa didasari data valid, apalagi moralitas kebenaran. Jadi mereka tak pernah berdasarkan benar atau salah. Apalagi baik dan tidak baik. Yang penting, mereka menyerang atau menentang lawan sesuai pesanan atau sponsor yang membayar. Modus mereka: sikat terus! Akibatnya mereka melawan moral publik.
Kedua, mereka seolah-olah banyak pengikut atau follower atau viewer. Padahal, jamak kita ketahui, bahwa pengikut dalam dunia maya adalah abstrak dan bahkan bisa direkayasa. Contoh follower atau viewer. Semua itu bisa direkayasa. Bisa dimark up. Mau minta berapa ratus ribu bahkan juta. Tinggal menghubungi agen-agen mereka.
Karena itu para buzzer itu aktif beternak akun sebanyak-banyaknya. Dengan berbagai nama atau atas nama. Tapi – sekali lagi – abstrak. Bahkan banyak yang pakai akun robot!










