Gila! Bupati Aktivis Ansor Ini Potong Gaji ASN 2.5% untuk Anak Yatim-Fakir Miskin | BANGSAONLINE.com - Berita Terkini - Cepat, Lugas dan Akurat

Gila! Bupati Aktivis Ansor Ini Potong Gaji ASN 2.5% untuk Anak Yatim-Fakir Miskin

Editor: MMA
Sabtu, 20 Maret 2021 06:31 WIB

Foto: BANGSAONLINE.com

MATARAM, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., empat hari (Jumat-Senin, 12 -15 Maret 2021) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kiai miliarder tapi dermawan itu menghadiri acara Pergunu dan PCNU serta silaturahim dengan para tuan guru, ulama, dan pejabat. M Mas’ud Adnan, Komisaris Utama HARIAN BANGSABANGSAONLINE.com, dan TV BANGSA yang ikut dalam rombongan itu menuliskan laporannya berikut ini.

Redaksi

Sore itu Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim turun dari kamar lantai 6 Lombok Astoria Hotel Mataram NTB.

Tak lama kemudian telepon di kamar saya - di hotel yang sama – berdering. “Pak ditunggu di lobi, Kiai Asep sudah turun, Bu Baiq sudah datang,” kata KH Fathurrohman, ajudan Kiai Asep.

Yang dimaksud Bu Baiq adalah Dr. Baiq Mulianah, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) dan juga Ketua Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) NTB. Bu Baiq juga Ketua PW Muslimat NU NTB. Bahkan juga Pengasuh Pondok Pesantren NU Al-Manshuriah Ta'limusshibyan Sengkang Bonder Praya Barat Lombok Tengah NTB.

Wanita energik ini memang memiliki banyak jabatan strategis. Maklum, perempuan berkulit putih ini selain punya basis intelektual juga memiliki kemampuan dan keramahan komunikasi sosial sangat bagus.

Tak aneh jika banyak pihak hormat dan menyukai perempuan bangsawan ini. Ia punya relasi dan jaringan sosial sangat luas, terutama dengan para pejabat dan ulama atau tuan guru dan kiai. Semua tokoh NTB – pejabat dan kiai atau tuan guru – mengenal secara baik Baiq Mulianah.

Bu Baiq inilah yang mengawal Kiai Asep dan rombongan selama empat hari di NTB.

Sore itu Kiai Asep dan rombongan meluncur ke rumah makan di Lombok Tengah. Ternyata Baiq Mulianah bersama Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah KH Maarif Makmur telah mengatur pertemuan Kiai Asep dengan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bari.

Saat tiba Kiai Asep langsung makan. Menu ini disiapkan Bu Baiq. Namun ia mengingatkan bahwa Bupati Pathul Bari juga menyiapkan menu makanan untuk Kiai Asep dan rombongan. Di ruang lain, di rumah makan yang sama.

Nggak apa-apa nanti makan lagi. Untuk menghormati,” kata Kiai Asep sembari menyudahi makannya. Kiai Asep langsung beranjak. Ia mengajak saya dan Kiai Fathurrohman pindah tempat. Ke ruangan yang sudah direservasi Bupati. Sementara rombongan Kiai Asep yang lain tetap melanjutkan makan.

Di ruangan baru ini kami menunggu. Tak berselang lama Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah KH Maarif Makmun datang. Diiringi dua orang. Yang satu duduk di sebelah kanan Kiai Maarif. Satunya lagi di sebelah kiri.

Kami dalam posisi berhadapan. Saya duduk di sebelah kiri Kiai Asep. Semula saya duduk di kursi di meja lain. Agak berjarak. Tapi Kiai Asep minta saya pindah ke kursi di sebelah kirinya.

Kiai Fathurrohman ikut pindah. Tapi di sebelah kiri saya. Saya pun berada di tengah, antara Kiai Asep dan Kiai Fathurrohman. Sedang Dr. Baiq Mulianah berada di sebelah kanan Kiai Asep.

Kami pun makan lagi. Tapi saya mulai penasaran. Kok bupatinya belum juga datang. Sambil makan saya terus melihat ke pintu. Barang kali bupatinya segera datang. Tapi tak ada orang datang lagi.

Saya baru tahu setelah makan hampir selesai. Ternyata Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bari itu sudah datang. Ya, orang yang berada di sebelah kiri Kiai Maarif Makmun itulah bupati yang ditunggu. Penampilannya sangat sederhana, tidak formal, apalagi perlente sebagaimana umumnya pejabat.

Saya sama sekali tak menyangka. Karena – maaf – dari segi performance sang bupati– meminjam istilah orang Jawa – nggak dayani. Ia berkopiah putih, pakai sarung dan baju lengan panjang yang tampaknya bukan baju berkelas.

Penampilan Bupati Pathul Bari memang tak seperti bupati pada umumnya. Jauh dari perlente. Juga tak didampingi ajudan yang biasanya – maaf – penampilan dan sikapnya lebih bupati dari pada bupatinya sendiri.

Penampilan sang bupati ala santri ini semakin membuat saya penasaran. Maka saya pun banyak mengajukan pertanyaan. “Saya Ansor jaman Gus Ipul. Dan juga PMII,” kata Bupati Pathul Bari.

Maksudnya dulu pernah jadi ketua Ansor? Tanya saya. “Nggih,” jawab Pathul Bari. Di NTB bahasa ‘enggih’ merupakan bahasa sehari-hari.

Saya makin tertarik ketika ngobrol soal kebijakannya sebagai bupati. Ia ternyata punya kebijakan sangat berani. Memotong 2,5% gaji semua Aparatur Sipil Negara (ASN).

Kok 2,5%?. ”Ini sesuai syariah,” jawab Pathul Bari.

Uang potongan 2,5% itu untuk , , kebutuhan berobat masyarakat dan kebutuhan lainnya. “Setiap acara apa saja saya selalu mendatangkan ,” tambahnya.

Jumlah potongan itu cukup besar. Terkumpul Rp 11 miliar setiap tahun. Dana itu ditampung di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang ketuanya KH Maarif Makmun. “Saya memang selalu berkonsultasi dengan beliau,” kata Pathul Bari.

Yang mengagumkan, penggunaan dana itu tidak pasif atau menunggu orang mengajukan permohonan bantuan. Tapi pro aktif, mencari orang yang butuh. “Kalau tak ada orang minta dana untuk berobat, kita menugaskan orang ke rumah sakit-rumah sakit,” jelas Kiai Maarif Makmun.

Jadi, ada orang yang ditugaskan mencari orang-orang tak mampu yang sedang berobat di rumah sakit. Berapa pun banyak, mereka dibantu.

Bagaimana dengan BPJS? “Jalan. Semua jalan,” jawab Pathul Bari.

Saya makin penasaran. Apalagi di NTB banyak juga warga non-Islam. Mereka beragama Hindu, Kristen, dan lainnya.

Apakah ASN yang non-muslim itu juga dipotong 2,5%? “Tetap kita potong, semua kita potong,” jawab Pathul Bari tegas.

Kiai Maarif Makmun menyela. “Tapi setelah uang potongan mereka masuk Baznas kita kembalikan pada mereka (non Muslim), kita berikan pada mereka lagi,” timpal Kiai Maarif Makmun. “Tapi kalau mereka misalnya gak mau dikembalikan karena juga mau ikut menyumbang, ya kita terima.”

Dengan demikian tak ada diskriminasi. Semua patuh pada aturan. Maklum, kebijakan potong gaji 2,5% itu sudah menjadi Peraturan Daerah (Perda) yang disahkan dan diputuskan DPRD Lombok Tengah.

Kiai Asep lalu menimpali. Apa DPRD-nya menyetujui saat Raperda diajukan. Ternyata. mereka setuju. Tak ada yang mempersoalkan.

Rakyat Lombok Tengah memang beruntung. Punya bupati peduli, tak sibuk penampilan dan pencitraan. Sebaliknya, selalu memikirkan nasib rakyat. Maka rakyat berjumlah 947.488 jiwa itu mulai beranjak makmur. Jumlah orang miskin terus berkurang.

Banyak sekali obrolan produktif di meja makan itu. Tapi nanti saja saya tulis lagi. Karena Kiai Maarif dan Bupati Pathul Bari mengajak Kiai Asep dan rombongan ke kantor PCNU Lombok Tengah. “Sudah ditunggu,” kata Kiai Maarif Makmun kepada Kiai Asep.

Kami pun bergeser ke kantor PCNU Lombok Tengah. Di kantor PCNU itu Kiai Asep diminta memberikan taushiah. Di depan pengurus PCNU dan Banom. Bahkan Bupati Pathul Bari sendiri yang memimpin pertemuan itu.

Kiai Asep mengaku sangat terkesan dengan kepemimpinan Bupati Pathul Bari. Bahkan ia berniat mengundangnya ke Mojokerto Jawa Timur agar memberi pemaparan kebijakannya yang inspiratif itu. 

Bupati Pathul Bari memang unik. Ia bukan saja takdzim dan tawadlu pada kiai. Tapi juga selalu mengonsultasikan kebijakan-kebijakannya kepada kiai dan tuan guru.

Tak heran jika ia sangat takdzim dan tawadlu pada Kiai Asep. Ia bahkan minta didoakan. Dalam waktu dekat juga akan mengirim putranya ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang diasuh Kiai Asep Saifuddin Chalim. (Tulisan ini sudah dimuat HARIAN BANGSA, Kamis 18 Maret 2021)

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video