11 Perempuan di PBNU, Sejarah Baru Menyongsong Satu Abad NU

Sebab, dalam perspektif penganut agama-agama besar banyak yang berpandangan bahwa pemimpin harus laki-laki. Sehingga, relasi yang terbangun selama ini cenderung didominasi oleh anggapan bahwa peran perempuan hanya mengurusi masalah rumah tangga. 

Untuk itu, maka KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua PBNU berusaha untuk memperjuangkan prinsip al-akhdu bil jadidil ashlah (mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Sebab, sejauh ini banyak kalangan yang masih cenderung berpegang teguh pada prinsip al-muhafadatu qadimis shalih (mempertahankan hal-hal lama yang baik). Sehingga, kurang berani untuk mengambil hal-hal baru yang lebih baik, kendati NU mempunyai stok sumber daya manusia yang sangat banyak untuk dapat menerapkan hal tersebut.

Gebrakan yang dilakukan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU yang baru tersebut terus mendapatkan apresiasi dan respons positif dari berbagai. Sebab, langkah KH Yahya Cholil Staquf yang memasukkan 11 (sebelas) orang perempuan ke struktur kepengurusan PBNU selain dinilai sebagai langkah yang progresif untuk membawa NU tampil ke pentas dunia ketika NU berusia satu abad tepat pada tanggal 31 Januari 2026 yang akan datang.

Pemberian ruang bagi 11 (sebelas) orang perempuan oleh PBNU itu merupakan pesan awal yang dikirimkan KH Yahya Cholil Staquf terhadap dunia internasional. KH Yahya Cholil Staquf sebagai nahkoda baru PBNU ingin menunjukkan kepada publik internasional bahwa NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang telah ada sejak tahun 1926 sangat menghargai keberadaan perempuan. Bentuk penghargaan tersebut diwujudkan secara nyata melalui pemberian jatah kursi kepada kaum perempuan untuk masuk ke dalam tubuh PBNU.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: