KH Yahya Cholil Staquf. Foto: Kompas
JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang diagendakan digelar pada Agustus 2026 situasi di organisasi keagamaan terbesar itu memanas kembali. Beredar surat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang juga bertanda tangan tunggal, tanpa tanda tangan Rais Aam. Surat nomor 169 PB.23/B. I. 01/99/04/2026 itu bertanggal 12 Duzlqo’dah 1447 H atau 30 April 2026 M.
“Permohonan Menghadap,” demikian tertulis di prihal surat berkop Pengurus Besar Nadlatul Ulama Jalan Kramat Raya no 164 Jakarta itu.
BACA JUGA:
- Kiai Miftah Bantah Hadang Pesantren Lirboyo Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
- Nama Tunggal di SK, Rais Aam Putuskan Lokasi Munas-Konbes NU di Ponpes Alfalah Ploso Kediri
- Muktamar ke-35 NU: Dari Politik Figur Menuju Politik Gagasan di Tengah Disrupsi Zaman
- Soroti Muktamar ke-35 NU, Poros Muda NU: Harus Lahirkan Pemimpin Baru Sesuai Harapan Warga Nahdliyin
Menghadap siapa? Di surat tersebut tertulis: Kepada Yang Tehormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto.
Menghadap untuk apa? “…, dalam rangka melaporkan perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama serta memohon arahan dan nasehat Bapak Presiden,” demikian salah satu potongan kalimat dalam surat yang kini viral itu.
“Besar harapan kami kiranya Bapak Presiden berkenan memberikan waktu pada kesempatan yang dianggap baik,” tulis surat itu lagi.

BANGSAONLINE berusaha mengonfirmasi ke PBNU, apakah surat tersebut asli dari Gus Yahya.
“Asli. Dari Gus Yahya,” jawab KH Imron Rosyadi Hamid, PHd, Wakil Sekjen PBNU yang juga Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang Jawa Timur kepada BANGSAONLINE, Sabtu 6 Juni 2026.
Surat bertanda tangan tunggal Gus Yahya itu ramai dipersoalkan para kiai, guru besar, aktivis NU dan juga pengurus NU di grup-grup WhatsAap. Mereka, selain menyayangkan surat tersebut bertanda tangan tunggal – hanya Gus Yahya - tanpa Rais Aam, Katib Aaam, dan Sekjen PBNU, juga soal kenapa harus lapor dan minta nasehat kepada presiden, bukan kepada para masyayikh atau mustasyar.
"Keduanya sama2 keras, yang hancur NU," ujar seorang aktivis NU.
Yang dimaksud keduanya adalah Rais Aam Syuriah PBNU Kiai Miftachhul Akhyar dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU Gus Yahya.
"Kalau begini hancur-hancuran," timpal guru besar yang kini berada di tanah suci.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




