KEDIRI, BANGSAONLINE.com – Kiai-kiai kharismatis silaturahim ke kediaman KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur, Jumat (7/8/2026) pagi.
Para kiai itu minta Mbah Da – panggilan KH Nurul Huda Djazuli - bersedia menjadi Rais Aam Syuriah PBNU dalam Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Berar Jombang Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026.
Kiai-kiai itu adalah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur serta Amanatul Ummah 02 Leuwimunding Majalengka Jawa Barat.
Kemudian KH Mas’ud Masduki, Rais Syuriah PWNU Yogyakarta yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ar-Robithoh Krapyak Lor Sleman Yogyakarta dan KH Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon Tlogosari Wetan, Kec. Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Namun yang datang langsung ke Ploso dan bertemu Kiai Nurul Huda hanya Kiai Asep dan Kiai Mas’ud Masduki. “Kiai Ubaid belum datang dari Jakarta,” ujar Kiai Mas’ud Masduki kepada Mbah Da.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, Kiai Asep Saifuddin Chalim dan Kiai Mas’ud Masduki tiba di kediaman Kiai Nurul Huda Djazuli sekitar pukul 7 pagi. Kiai Mas’ud Masduki didampingi Nur Khalik Ridwan dan Ahmad Zuhri. Sedangkan Kiai Asep Saifuddin Chalim didampingi M. Mas’ud Adnan.
Kiai Nurul Huda Djazuli menerima Kiai Asep dan Mbah Ud – panggilan Kiai Mas’ud Masduki – di kediaman pribadinya di lantai dua Pondok Pesantren Putri Al Falah Ploso Kediri. Mbah Da didampingi putranya, KH Muhammad ‘Abdurrahman Al Kutsar yang akrab dipanggil Gus Kautsar.
Beberapa saat setelah dipersilakan duduk, Kiai Mas’ud Masduki langsung menyampaikan kondisi kepemimpinan NU yang terus konflik. Menurut Kiai Mas’ud, para kiai – termasuk Kiai Asep dan Kiai Ubaid – sangat prihatin terhadap konflik yang menimpa PBNU sekarang.
NU ke depan, kata Kiai Mas’ud Masduki, butuh figur Rais ‘Aam yang bijak, teduh, kharismatik, tidak politis, dan memiliki haibah atau wibawa yang bisa diterima semua pihak.
“Karena itu kami mohon Kiai berkenan menjadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU,” ujar Kiai Mas’ud Masduki.
Mendengar permintaan itu Kiai Nurul Huda Djazuli langsung tertawa.
“Saya ini orang desa,” ujar Mbah Da dengan penuh rendah hati.
Kiai Asep langsung menimpali.
“Asal kiai berkenan, saya ikhlas jadi khadimnya. Saya tak perlu masuk pengurus. Saya tak perlu jadi wakil rais atau apa. Saya ikhlas. Yang penting kiai berkenan jadi Rais ‘Aam, karena situasinya sudah seperti ini,” ujar putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang juga pahlawan nasional itu.
Menurut Kiai Asep, PBNU butuh kiai sepuh yang teduh dan punya haibah kuat untuk meredam konflik sekaligus mempersatukan kembali para kiai yang selama ini terpecah.
“Nggak apa-apa saya disuruh-suruh, asal kiai berkenan,” ujar Kiai Asep.
Dalam kesempatan itu Kiai Asep sempat bercerita tentang sejarah berdirinya NU. Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari tak langsung merestui ketika KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mendirikan NU. Ada rentang waktu 10 tahun dari usulan itu baru disetujui. Bahkan Kiai Wahab sempat hampir putus asa karena tak kunjung mendapat restu dari Hadratussyaikah.
“Saya hanya harus memilih salah satu diantara dua pilihan, jika guru saya, Hadratussyaikh tidak merestui saya (mendirikan NU). Saya masuk SI (Syarekat Islam) dengan memperbaiki dari dalam atau saya pulang ke pondok untuk mengelola pondok pesantren,” ujar Kiai Asep.
KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep, yang menjadi Sekretaris Syubbanull Wathan, yang juga sahabat karib Kiai Wahab saat belajar di Makkah, minta Kiai Wahab sabar.
“Sabar kiai, insyaallah nanti pasti ada jalan,” ujar Kiai Abdul Chalim seperti ditirukan Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, Kiai Abdul Chalim inilah yang menjadi komunikator antara Hadratussyaikh dan Kiai Wahab. Kiai Abdul Chalim kemudian sowan lagi kepada Hadratussyaikh, menyampaikan keinginan restu Kiai Wahab untuk mendirikan NU.
Hadratussyaikh akhirnya merestui. Hadratussyaikh minta Kiai Wahab mengundang para kiai. Bahkan Kiai Hasyim Asy’ari menyuruh santri Tebuireng untuk membantu Kiai Abdul Wahab dan Kiai Abdul Chalim mengundang para kiai.
“Karena NU tak boleh didirikan perorangan tapi harus didirikan para ulama,” ujar Kiai Asep menjelaskan kenapa Haratussyaikh minta mengundang para kiai.
Menurut Kiai Asep, banyak faktor mengapa Hadratussyaikh lama sekali untuk memberikan restu atas pendirian NU. Selain harus istikharah, Hadratussyaikh juga khawatir terjadi perpecahan di kalangan umat Islam. Karena saat itu sudah banyak sekali organisasi berdiri dan posisi Hadratussyaikh sangat sentral, sebagai Bapak Umat Islam.
Apalagi Kiai Wahab sendiri juga memberikan syarat bahwa Hadratussyaikh yang harus menjadi pemimpin sentral Jami’iyah Nahdlatul Ulama (NU) yang dia usulkan.
“Guru saya atau kiai saya yang harus memimpin organisasi ini,” ujar Kiai Wahab.
Maka dalam formasi kepenguran PBNU periode pertama (1926): Hadratussyaikh sebagai Rais Akbar dan KH Dahlan Ahyad sebagai Wakil Rais Akbar/Rais.
Sedangkan KH Abdul Wahab sebagai Katib Awaldan KH Abdul Chalim sebagai Katib Tsani. Sementara Ketua Tafidziyah H. Hasan Gipo.
Bagi Kiai Asep, sowan ke Mbah Da di Ploso merupakan upaya ittiba’ historis abahnya, KH Abdul Chalim dan Kiai Abdul Wahab, yang memohon restu kepada Hadratussyaikh.
“Ini kan seperti abah saya dulu, Pak Mas’ud,” kata Kiai Asep kepada Mas’ud Adnan yang mendampingi.
Pantauan BANGSAONLINE di berbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa, nama Kiai Nurul Huda paling banyak disebut sebagai calon anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa). Bahkan nama Mbah Da selalu ditempatkan di nomor urut satu. Selanjutnya nama Gus Mus, Kiai Said Aqil, Kiai Kafabih, Kiai Asep Saifuddin Chalim, dan kiai-kiai lainnya.
Yang juga menarik, dalam silaturahim di Ndalem Mbah Da itu muncul keinginan kuat untuk menghidupkan kembali tradisi silaturahim para kiai struktural dan kiai kultural NU tiga bulan sekali.
“Dulu Mbah Idris, Mbah Dimyati, Mbah Faqih, Mbah Warsun, bertemu tiga bulan sekali untuk merespons dan membahas situasi,” ujar Gus Kautsar.










