Sampai Sakit dan Mencret, Kisah Kiai As'ad dan Kiai Mahrus Aly Menolak Jadi Rais Aam

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Dulu Ulama NU benar-benar menjadi teladan moral. Mereka sama sekali tidak punya ambisi untuk jabatan. Apalagi jabatan sekelas Rais Aam Syuriah PBNU. Jangankan melakukan pengkondisian dan menebar risywah, punya niat dan keinginan jadi Rais Aam saja sangat tabu bagi mereka.

Salah satu contoh KH Mahrus Aly. Ulama kharismatik dari Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur itu selalu menolak diminta untuk jadi Rais Aam Syuriah PBNU.

Begitu juga KH As’ad Syamsul Arifin. Ulama berpengaruh dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo Jawa Timur benar-benar tak mau diamanati jadi Rais Aam Syuriah PBNU.

Suatu ketika para kiai mendatangi Kiai As’ad Syamsul Arifin. Mereka minta agar Kiai As’ad berkenan menjabat Rais Aam. Beliau langsung menolak.

“Walaupun Malaikat Jibril turun dari langit saya tetap menolak jadi Rais Aam,” kata Kiai As’ad Saymsul Arifin kepada para tamunya.

Menurut Kiai As’ad, yang pantas menjadi Rais Aam Syuriah PBNU adalah Kiai Mahrus Aly Lirboyo. Ia menyarankan para kiai datang ke Kiai Mahrus Aly.

Ternyata Kiai Mahrus Aly lebih keras lagi penolakannya.

“Jangankan Malaikat Jibril, Malaikat Izrail turun saya juga tidak manu jadi Rais Aam,” tegas Kiai Mahrus Aly.

Penolakan Kiai Mahrus Aly itu bukan yang pertama. Beliau pernah didatangi KH Imron Hamzah, utusan ulama-ulama NU Jawa Timur. Kiai Imron Hamzah mendapat mandat untuk “merayu” Kiai Mahrus Aly agar berkenan menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.

Tapi “rayuan” Kiai Imron Hamzah tak mempan. Meski demikian, Kiai Imron Hamzah tak putus asa. Beberapa minggu kemudian Kiai Imron Hamzah datang lagi ke ndalem Kiai Mahrus Aly di Pesantren Lirboyo Kediri.

Tapi lagi-lagi gagal. Kiai Mahrus Aly bahkan langsung sakit melihat kedatangan Kiai Imron Hamzah. Ya, saking tidak berkenannya menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Sampai Kiai Mahrus Aly trauma mendengar nama Kiai Imron Hamzah.

Karena itu istri Kiai Mahrus Aly minta Kiai Imron Hamzah tak datang lagi. Menurut istri Kiai Mahrus Aly, suaminya trauma. Sehingga begitu mendengar nama Kiai Imron Hamzah langsung sakit. Bahkan mencret-mencret.

Alhasil, sedemikian tingginya akhlak dan kehati-hatian para ulama NU terdahulu dalam masalah jabatan. Mereka benar-benar takut kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kelak di akhirat. Karena itu mereka menolak jabatan Rais Aam. 

Karen itu beliau-beliau sangat bermartabat, penuh muruah, berwibawa dan sangat disegani oleh masyarakat, terutama warga NU. 

Lalu bagaimana endingnya? Benarkah KH A Wahid Hasyim berkhidmat di NU memulai dari sekretaris ranting? Bukankah ayahanda Gus Dur itu putra mahkota Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari? Kenapa juga masih berpikir sampai empat tahun sebelum bergabung ke NU?

Simak dialog M. Mas’ud Adnan dengan Prof Dr KH Imam Ghazali Said dalam Podcast BANGSAONLINE di channel YouTube. Jangan lupa, subcribe, like dan komentar ya. Terimakasih sebelumnya.