Ngaji Fathul Qorib Model Amanatul Ummah, Hafal 30 Halaman Bisa Baca Kitab

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Seusai shalat jemaah maghrib, tamu masih banyak di kediaman Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA di Jalan Siwalankerto Surabaya, Senin 28 September 2026. Tapi Kiai Asep pamit kepada para tamunya karena harus mengaji kitab di depan ribuan santrinya yang lokasinya tak jauh dari kediamannya.

“Saya mau ngaji dulu. Sampean tetap di sini,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto kepada para tamunya.

Putra pendiri NU KH Abdul Chalim Leuwimunding itu kemudian mengajak BANGSAONLINE ke aula Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Ikut juga Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk Al Husaini, ulama Universitas Al Azhar Mersi yang ditugaskan mengajar di Amanatul Ummah. Di ruangan besar yang terletak di belakang kediamannya itu ribuan santri putra dan putri sudah menunggu sambil memegang kitab Mukhtarul Ahadits An Nabawiyah dan Fathul Qorib.

Kiai Asep langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Sementara Syaikh Mabruk duduk di sampingnya. “Sekarang ngajinya sebentar saja. Karena saya banyak tamu,” ujar Kiai Asep kepada para santrinya.

Kiai Asep mulai membaca dan mengartikan matan Hadits. Setelah menjelaskan maksud Hadits itu Kiai Asep langsung bertanya kepada para santrinya.

“Siapa yang yang hafal Hadits ini,” tanya Kiai Asep sembari memegang uang pecahan lima ribuan.

Banyak santri yang langsung mengacungkan tangan. Terutama santri putri. Satu per satu Kiai Asep menunjuk mereka. Para santri itu melafalkan Hadits sekaligus mengartikannya. Yang hafal langsung dikasih uang Rp 5.000.

Di tengah sibuk melayani acungan tangan para santrinya itu tiba-tiba seorang ustadz membisiki Kiai Asep. Ia menginformasikan ada santriwati yang nangis di tengah-tengah santri putri.

Kiai Asep langsung menyebut nama santriwati tersebut. Ia minta santri yang sekolah SMP itu maju ke depan. Dengan dituntun santriwati lainnya ia menuju ke depan.

“Duduk di situ,” ujar Kiai Asep kemudian. Air matanya masih membasahi wajahnya.

Setelah selesai melayani acungan tangan santri-santri lainnya Kiai Asep minta santriwati yang nangis itu berdiri. Kiai Asep minta agar ia juga membaca Hadits secara hafalan seperti santri-santri lainnya.

“Saya gak hafal,” jawab dia.

Kiai Asep kemudian menuntun kata per kata sekaligus artinya sampai selesai.

Setelah itu Kiai Asep memberikan uang Rp 5.000 kepada santriwati asal Pati Jawa Tengah itu.

Kepada BANGSAONLINE Kiai Asep menuturkan bahwa ada santri tertentu yang memang perlu mendapat perhatian khusus agar mereka tettap kerasan atau betah di pesantren.

Tak lama kemudian, Kiai Asep ganti kitab: Fathul Qorib. Yaitu kitab fiqh dasar yang membahas tentang yurisprudensi Islam. Metodenya sama. Kiai Asep membaca salah satu pasal yang menjelaskan tentang tata cara shalat. Setelah menjelaskan maksud teks atau narasi kitab tersebut, Kiai Asep menanyakan siapa santrinya yang sudah hafal teks fiqh yang baru saja ia baca. Lagi-lagi santrinya mengacungkan tangan.

Kiai Asep menunjuk beberapa santri. Mereka yang lolos hafal langsung diberi uang Rp 5.000.

“Kalau kalian hafal 30 halaman saja, kalian sudah bisa baca kitab,” ujar putra pendiri NU KH Abdul Chalim Leuwimunding yang pada 10 November 2023 ditetapkan sebagai pahlawan tersebut.

Kiai Asep yakin terhadap metodenya itu karena berdasarkan pengalaman pribadinya. Kepada BANGSAONLINE  ia bercerita bahwa dulu sebelum bisa baca kitab dirinya menghafalkan halaman demi halaman Fathul Qorib. "Baru setelah hafal itu saya belajar ilmu nahwu untuk memperbaiki bacaan saya," ujarnya sembari mengatakan bahwa ia belajar ilmu sharaf (formologi) saat ayahandanya mengajar murid atau santrinya di rumahnya di Jawa Barat.

"Saya hanya mendengarkan dari luar ruangan. Tapi kemudian hafal nashara yanshuru nashran dan seterusnya karena tiap hari saya mendengarkan itu," ujarnya. 

Menjelang pengajian berakhir, Kiai Asep minta santrinya membaca ikrar akademik Amanatul Ummah yang isinya tentang visi misi Amanatul Ummah.

“Yang hafal saya kasih Rp 10.000,” ujar Kiai Asep.

Seorang santriwati mengacungkan tangan dan berdiri membacarakan ikrar yang diikuti oleh ribuan santri lainnya. Setelah itu santri putra membacakan ikrar yang sama.

Kiai Asep kemudian mengajak para santri mendoakan negara dan organisasi NU. Kiai Asep memimpin pembacaan surat al Ikhlas dan surat Al Fil tiga kali.

“Siapapun yang dzalim kepada negara Indonesia dan NU semoga dihancurkan oleh Allah SWT,” kata Kiai Asep.

Acara pengajian kitab itu ditutup doa oleh Syaikh Mabruk. Kiai Asep lalu kembali menemui para tamunya yang menunggu di ruang tamu kediamannya.