Merasa Tak Ahli Fiqih, Gus Dur Menolak Jadi Rais 'Aam: Tradisi NU Itu Tahu Diri !

Oleh: M. Mas’ud Adnan

Ternyata syarat utama Rais ‘Aam Syuriah PBNU bukan sekadar ahli yurisprudensi Islam alias alim fiqih. Tapi juga rasa “tahu diri”. Bahkan Gus Dur pun menolak dicalonkan sebagai Rais ‘Aam karena merasa bukan ahli fiqih. Ini tentu menarik. Padahal tak ada satu pun kiai yang meragukan kealiman dan keulamaan Gus Dur. Bukankah cucu Hadratussyaikh KH Muhamamd Hasyim Asy’ari itu telah diakui sebagai ulama internasional? Simak tulisan M. Mas’ud Adnan di HARIAN BANGSA edisi Rabu 16 September 2026 ini:

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilantik sebagai Presiden ke-4 RI pada 20 Oktober 1999. Saat itu Gus Dur masih menjabat Ketua Umum Tanfidziah PBNU. Dua bulan kemudian Muktamar ke-30 NU digelar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Tepatnya tanggal 21 – 27 Desember 1999. Saat itulah Gus Dur melepas jabatan ketua umum PBNU.

Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU selama tiga periode. Yaitu sejak Muktamar ke-27 yang digelar pada 8 – 12 Desember 1984 di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

Nah, ketika pidato sambutan dalam Muktamar ke-30 di Lirboyo itulah Gus Dur bercerita. Menurut Gus Dur, sebelum ada isu dirinya jadi presiden, KH Ahmad Sahal Mahfudh memberi informasi bahwa PCNU-PCNU menginginkan Gus Dur jadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Gus Dur langsung menolak. Kenapa?

Inilah alasan yang sangat elegan secara moral sesuai kultur fundamental NU.

 “Karena Hadratussyaikh mendirikan NU atas dasar hukum Islam alias fiqih. Beliau mengarang 11 kitab. Dari Tanbihatul Wajibat hingga Tahrimu Muqota'atil Arham. Itu semua fiqih,” ujar Gus Dur.

Begitu juga KH Faqih Mas Kumambang yang menjadi Wakil Rais Akbar juga ahli fiqih. “Kalau beliau mengarang kitab adalah kitab fiqih,” ujar Gus Dur lagi.

KH A. Wahab Hasbullah, tegas Gus Dur, sebagai Rais ‘Aam juga ahli ushul fiqih.

Sekedar informasi, ketika Hadratussyaikh wafat para kiai minta Kiai Wahab Hasbullah mengggantikan sebagai Rais Akbar. Kiai Wahab secara tegas menolak. Kiai Wahab merasa tak pantas sebagai Rais Akbar. Kiai Wahab baru bersedia mengganti Hadratussyaikh dengan syarat bukan sebagai Rais Akbar tapi Rais ‘Aam.

Sejak itu pimpinan tertinggi NU disebut Rais ‘Aam, bukan Rais Akbar. Para kiai selain merasa tak pantas sebagai Rais Akbar juga sebagai sikap tawaddlu’ kepada Hadratussyaikh. Menurut mereka, hanya Hadratussyaikh yang pantas sebagai Rais Akbar.

KH Bisri Syansuri, ujar Gus Dur, sebagai Rais ‘Aam pengganti Kiai Wahab Hasbullah juga ahli fiqih. Begitu juga KH Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta juga ulama yang mendalami fiqh dan mengajar fiqh.

“Setelah itu muncul Kiai Achmad Siddiq Jember sebagai Rais ‘Aam yang juga orang fiqih,” ujar Gus Dur. Kiai Achmad Siddiq, selain alim juga dikenal sebagai ulama visioner dan berwawasan luas.

Gus Dur lalu menyebut KH Ilyas Ruhiyat. Menurut Gus Dur, Kiai Ilyas Ruhiyat pengganti Kiai Achmad Siddiq sebagai Rais ‘Aam, juga orang fiqih.

“Walaupun (Kiai Ilyas Ruhiyat) orang yang senang tasawuf tapi tak pernah melupakan kewajiban berfiqih dengan mengajarkan kitab fiqih,” ujar Gus Dur.

Atas dasar itu semua Gus Dur secara terbuka menolak dipilih sebagai Rais ‘Aam dalam Muktamar ke-30 NU di Lirboyo Kediri itu.

“Jadi, karena itu, jangan saya (sebagai Rais ‘Aam),” tegas Gus Dur kepada muktamirin.

Gus Dur merasa bukan ahli fiqih.

“Kalau ngajar nahwu berani. Kalau ngajar ‘arudl berani,” canda Gus Dur yang langsung disambut gerrr muktamirin.

Nahwu adalah ilmu gramatika bahasa Arab, sedangkan ‘Arudl adalah ilmu sastra Arab yang mempelajari pola, timbangan (wazan), dan kesahihan sebuah syair Arab klasik.

“Mungkin kalau dipaksa-paksa ngajar Hikam masih berani,” seloroh Gus Dur lagi yang lagi-lagi disambut tawa para muktamirin.

Hikam adalah kitab karya Ibnu Athaillah yang membahas tentang tasawuf yang sangat populer, berisi kata-kata mutiara, petuah spiritual, dan panduan batin bagi para pejalan ruhani atau salik.

“Tapi kalau fiqih, (saya) angkat tangan,” kata Gus Dur. Para kiai dan muktamirin kembali tertawa riuh.

“Ini namanya, tradisi NU itu tahu diri! Kalau ndak sanggup ya ndak sanggup. Repot-repot,” ujarnya.

Kiai Sahal Mahfudh lalu bertanya kepada Gus Dur.

“Lalu siapa yang ngerti fiqih?,” tanya Kiai Ahmad Sahal Mahfudh.

“Kayak sampean gak tahu tradisi NU saja,” jawab Gus Dur.

“Gimana,” tanya Kiai Sahal lagi.

“Lha, yang usul (Kiai Sahal) yang tanggungjawab,” jawab Gus Dur. Lagi-lagi para muktamirin tertawa.

Akhirnya memang KH Ahmad Sahal Mahfudh yang terpilih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU dalam Muktamar ke-30 NU di Lirboyo Kediri itu. Padahal seandainya Gus Dur bersedia niscaya muktamirin aklamasi. Apalagi saat itu Gus Dur Presiden RI.