Difitnah Tak Bisa Ngaji, Gus Kikin Beri Ijazah Sanad Shahih Muslim Dzurriah Muassis Ponpes se-Jawa

JOMBANG, BANGSAONLINE.com-Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur, Khalilurrahman Abdullah Sahlawy – akrab dipanggil Lilur - memfitnah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, tak bisa mengaji. Fitnah itu ia sampaikan secara terbuka dengan bahasa kasar dan sangat merendahkan dalam podcast LP3ES.

“Tapi yang paling menyakitkan kami para kader muda NU adalah beliau yang diusung tidak cukup mumpuni untuk disebut sebagai ulama. Dengan segala hormat saya pada Yai Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin. Gus Kikin memang dzurriyah muassis NU. Tapi secara keilmuan, ilmu agama, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pesantren Tebuireng, Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji,” ujar Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy dalam podcast tersebut.

Sekedar informasi, dalam Muktamar ke-35 NU itu Gus Kikin memang salah satu calon ketua umum PBNU. Sedangkan Lilur mengusung Prof Dr Nazaruddin Umar sebagai calon ketua umum PBNU dan KH Said Aqil Siroj sebagai calon Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Lilur mengungkapkan dukungannya itu di beberapa media.

Dalam podcast LP3ES itu Lilur memakai diksi “paling menyakitkan kami para kader muda NU” untuk menggambarkan betapa kecewanya dia terhadap Gus Kikin sebaga calon ketua umum PBNU. Karena, menurut Lilur, Gus Kikin tak mumpuni sebagai ulama.

Lilur juga memakai diksi “sama sekali tak bisa mengaji” untuk merendahkan Gus Kikin. Ini berarti Lilur yang merupakan orang Situbondo itu menganggap Gus Kikin benar-benar tak bisa mengaji.

Ternyata manuver Lilur untuk mendowngrade Gus Kikin gagal total. Gus Kikin justeru terpilih sebagai ketua umum PBNU dengan raihan suara sangat besar. Gus Kikin mendapat 472 suara dalam tahap penyaringan calon ketua umum PBNU.

Peraih suara nomor dua adalah KH Zulfa Mustofa. Namun selisihnya sangat jauh. Kiai Zulfa dapat 262 suara. Jadi selisih 210 suara dengan Gus Kikin. Kemudian disusul KH Abdussalam Sochib dengan 261 suara.

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai incumbent justeru berada di posisi keempat. Ia meraih 258 suara. Baru Nusron Wahid di posisi kelima. Ia meraih 207 suara. Sedangkan Gus Ipul mendapat 174 suara.

Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) akhirnya menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.

RESPONS GUS KIKIN

Setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU, Gus Kikin diwawancarai wartawan. Berbagai pertanyaan dilontarkan wartawan. Salah seorang wartawan bertanya, bagaimana respons Gus Kikin tentang tuduhan Gus Kikin tak bisa mengaji.

“Gak perlu dijawab. Kita buktikan saja nanti,” tegas cicit Hadratussyaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari itu.

Lilur masih koar-koar. Ia malah menantang Gus Kikin baca kitab secara terbuka. Tapi lagi-lagi Gus Kikin sabar. Ia tak merespons.

Hanya saja semakin banyak kiai yang menyayangkan sikap Lilur.  “Itu semakin mununjukkan bahwa dia bukan kader NU. Gus Kikin itu siapa. Gus Kikin itu cicit Hadratussyaikh yang harus kita hormati, kok diperlakukan seperti itu. Orang NU pasti punya unggah-ungguh, punya akhlak. Tidak seperti kerbau, seruduk sana seruduk sini,” ujar Gus Ali Azhara, aktivis PMII yang masih keturunan Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo Jawa Timur kepada BANGSAONLINE.

Banyak pihak kemudian menelusuri rekam jejak Gus Kikin. Benarkah Gus Kikin tak bisa mengaji seperti dituduhkan Lilur? Ternyata mereka menemukan rekaman video Gus Kikin sedang mengaji kitab di depan para santri Tebuireng.

Fakta lain adalah jejak digital saat Gus Kikin memberi ijazah sanad Shahih Muslim kepada para dzurriyah muassis (keturunan pendiri) pondok pesantren se-Pulau Jawa.

Seperti diberitakan berbagai media, termasuk NU Online dan Tebuireng Online, Rabbithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  menggelar program Nasyrus Sanad di Pesantren Tebuireng pada 12 Juli 2025 hingga 25 Juli 2025. Pesertanya para dzurriyah muassis atau keturunan para pendiri pesantren dari seluruh Jawa. Mereka mengaji bandongan kitab Shahih al-Bukhari selama 14 hari di Pesantren Tebuireng.

Program Nasyrus Sanad itu dibuka pada tanggal 12 Juli 2025 dan ditutup secara khidmat di Masjid Pesantren Tebuireng Jombang pada 25 Juli 2025.

“Program ini digagas Kiai Yahya Cholil Staquf berdasar dari dawuh Kiai Maimun Zubair. Mbah Mun (panggilan Kiai Maimun Zubair-Red) ngendikan bahwa pondok yang awet dan berkah (tidak sampai kukut) biasanya mengajarkan kitab yang sanadnya tersambung dengan Kiai Hasyim,” tulis Dr KH Anang Firdaus, Wakil Direktur Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Saai itu Gus Yahya masih sebagai ketua umum PBNU.

Menurut Anang, para peserta yang berasal dari dzurriyah muassis pesantren se-Jawa ini diharapkan dapat mengajarkan kitab al-Bukhari dengan sanad yang tersambung kepada Hadratusussyaikh.

Nah, saat itulah Gus Kikin diminta untuk mengijazahkan sanad, di samping mujiz yang lain, seperti Kiai A. Musta'in Syafi'ie, Kiai Muthohharun Afif, Kiai Taufiqurrahman, Kiai Sukarto Fakih dan Kiai Kamuli Khudhori. Mujiz adalah kiai atau ulama yang berhak menyerahkan legitimasi atau restu keilmuan secara sah.

Gus Kikin langsung berkenan. Hanya saja Gus Kikin memilih mengijazahkan kitab Shalih Muslim daripada al-Bukhari.

Mengapa? "Di tahun 1980-an, saya ngaji sorogan Shahih Muslim ke bapak (Kiai Mahfudz Anwar) setiap hari sabtu,” ujar Gus Kikin.

 “Ya, sorogan, Kiai Kikin yang mbalah (membaca dan mengkaji-Red) kitab di hadapan Kiai Mahfudz. Karena seminggu sekali, maka baru khatam setelah 4 tahun," tulis Anang.

Menurut Anang, pada tahun 80-an Kiai Kikin atau Gus Kikin sudah bekerja di BUMN. Tapi masih menyempatkan ngaji sorogan ke Kiai Mahfudz. Tentu saat belum bekerja, kesempatan ngaji beliau pastinya lebih banyak.

“Menurut saya, pilihan beliau mengijazahkan Shahih Muslim menunjukkan betapa beliau sangat menghargai sebuah proses panjang, kedisiplinan, serta kenangan yang membekas. Mengijazahkan Shahih Muslim dengan proses 4 tahun, untuk program Nasyrus Sanad yang "hanya" 14 hari,” tulis Anang.

Anang kemudian melontarkan pertanyaan sarkastis: Kira-kira jika ada santri yang ngaji sorogan ke Kiainya selama 4 tahun hingga khatam, adakah yang meragukan kualitas ngaji santri ini? Wallahu A'lam

Meski demikian fitnah Lilur menyebar. “Biarkan saja agar jadi dosa jariyah dia,” ujar seorang netizen.

Reaksi terhadap pernyataan Lilur terus berkembang. Mayoritas menyebut Lilur tak punya adab alias tuna akhlak.

“Taruhlah misalnya Gus Kikin tak bisa ngaji, sangat tidak pantas merendahkan Gus Kikin di depan publik seperti itu. Apalagi faktanya Gus Kikin bisa mengaji,” ujar KH Anwar Musyaddad.

“Kalau saya jadi Lilur, saya tak akan mengaku NU. Malu. Dan saya akan langsung keluar dari NU. Mosok orang NU menghujat dzurriyah muassis NU. Untuk apa jadi penganut organisasi yang didirikan mbah buyut Gus Kikin. Malu dong,” ujar kiai yang kerap mengaji kitab Fathul Mu'in itu.

Lebih malu lagi, tegas dia, kalau mengaku sebagai kader NU. Padahal faktanya Lilur tak pernah menjadi pengurus NU, Banom NU atau lembaga NU.

“Yang namanya kader NU itu pernah berproses di PMII, Ansor, IPNU, Pagar Nusa, Pergunu, atau lembaga NU yang lain, terutama di NU. Kalau perempuan berproses di Fatayat NU, IPPNU, Koppri, Muslimat NU dan lembaga NU,” ujarnya.

“Pantesan gak punya unggah-ungguh, tak punya adab NU. Ternyata dia tak pernah berproses di NU,” ujarnya lagi sembari mengatakan bahwa beda pendapat, beda pilihan politik, lumrah. Kritik juga wajar. Tapi adab harus dijaga.

Dalam adab NU, terutama adab yang dianut para orang tua, sangat menghormati kiai, lebih-lebih muassis dan dzurriyahnya.

“Dulu ada cerita seorang pedagang di pasar Cukir Jombang. Tiba-tiba ada kambing memakan dagangan orang jualan di pasar itu. Si pedagang membiarkan dagangannya dimakan kambing karena kambing itu ditengarai milik Mbah Hasyim Asy’ari. Ini kan contoh adab. Jadi, jangankan kepada keturunan Mbah Hasyim, kepada kambingnya saja orang menghormati,” ujarnya lagi.