Polisi Tembak Polisi, Kenapa Terungkap Tiga Hari Kemudian?

Polisi Tembak Polisi, Kenapa Terungkap Tiga Hari Kemudian?  Dahlan Iskan

JAKARTA, BANGSAONLINE.comKasus yang menewaskan Barigadir J terus menjadi wacana publik. Terutama setelah tiga orang petugas minta HP dua wartawan yang mewawancarai orang-orang di sekitar rumah Irjen Pol . Tiga petugas itu membuka HP dua wartawan itu dan menghapusnya. Informasi di media sosial pun kiai liar.

Adakah sesuatu yang misteri?

Silakan baca tulisan wartawan kawakan, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA hari ini, Selasa 19 Juli 2022. Atau di BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca: (PENGANTAR REDAKSI BANGSAONLINE)

"BUNG, Anda kan selalu ikuti berita di media. Mohon tanya: siapa media pertama yang menulis soal tembak-menembak polisi itu?"

Itulah pertanyaan saya pada beberapa orang pimpinan media. Tidak satu pun ada yang bisa menjawab.

Padahal saya sudah siap dengan pertanyaan berikutnya: "Berita pertama di media itu muncul sebelum atau sesudah konferensi pers resmi Mabes Polri?"

Padahal itu pertanyaan tulus saya sebagai orang yang merasa ketinggalan berita. Saya ingin memberi penghargaan kepada media pertama itu. Kok hebat banget.

Dari penelusuran saya, ternyata Ny Sambo sebenarnya sudah melapor ke polisi. Ke Polres Jakarta selatan.

Itu tanggal 9 Juli 2022. Berarti hanya satu hari setelah tembak-menembak.

Mengapa Ny Sambo sendiri yang lapor? Bukan suaminyi? Atau menyuruh anak buah?

Ini menyangkut ketentuan pelaporan. Untuk jenis laporan yang berkaitan dengan seks tidak boleh diwakilkan. Ini kan laporan masalah Ny Sambo merasa menjadi korban pelecehan seksual. Dia harus lapor sendiri secara pribadi. Soal apakah dia datang ke Polres atau orang Polres yang datang ke rumahnyi itu soal lain.

Mengapa laporan pelecehan seksual dilakukan setelah yang dilaporkan meninggal?

Itu suka-suka yang melapor.

Dengan adanya laporan itu seharusnya media yang ''ngepos'' di Polres Jakarta Selatan langsung tahu. Pengaduan seperti itu harus dibuka.

Kelihatannya wartawan memang mulai tahu. Tapi belum mau menulis. Bisa saja karena belum berhasil mendapat konfirmasi. Atau sengaja diminta menunggu keterangan resmi.

Maka mau tidak mau akan ada keterangan resmi.

Itulah sebabnya Polri melakukan konferensi pers tanggal 11 Juli 2022.

Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dari konferensi pers itu. Begitu banyak kejanggalan di alur ceritanya.

Tapi setidaknya wartawan sudah mulai bisa menulis. Wartawan juga mulai punya pijakan untuk melakukan reportase. CNN Indonesia dan Detik mengirim wartawan ke Duren 3. Yakni ke rumah Irjen Pol . Mereka wawancara dengan orang-orang di situ.

Lalu datanglah tiga orang petugas. Mereka minta HP dua wartawan itu. Dibuka. Isinya dihapus. Yakni yang berkaitan dengan wawancara soal tembak-menembak.

Saya pun bertanya kepada bos pemilik dua media itu. Saya ingin mewawancarai wartawan yang langsung terjun ke lapangan. "Namanya jangan dibuka dulu. Kasihan mereka," kata bos di dua perusahaan media grup CT Corp. Saya memakluminya.

Sang bos sudah ke Mabes Polri: mengadukan perlakuan pada dua wartawannya itu. Polri menanggapinya dengan baik. Akan diselesaikan.

Walhasil upaya merahasiakan peristiwa besar ini sebenarnya berhasil. Awalnya. Tidak ada media yang bisa mengklaim ''kamilah yang pertama mengungkap''.

Saya ingat di zaman Orde Baru. Saat itu sulit sekali untuk bisa menjadi pertamax seperti itu. Wartawan sebenarnya selalu tahu secara dini peristiwa besar. Tapi takut menuliskannya. Tunggu keterangan resmi saja. Kadang ada. Kadang tidak.

Simak berita selengkapnya ...