Charging Langka, Mobil Listrik Sering Kehabisan Setrum di Tengah Jalan

Charging Langka, Mobil Listrik Sering Kehabisan Setrum  di Tengah Jalan Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com -  Mobil listrik mulai beroperasi di Indonesia. Tapi di jalan raya belum benar-benar lancer. Sering di tengah jalan. 

Kenapa? Baca saja tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan,  di HARIAN BANGSA hari ini, Jumat 29 Juli 2022. Atau di BANGSAONLINE di bawah ini. Selamat membaca: (PENGANTAR REDAKSI BANGSAONLINE).

KALAU ada juara mengendarai mobil listrik di Indonesia, pialanya untuk Deky Andrianto Raharjo. Mobil listriknya sudah mencapai kilometer 56.967.

Mereknya Hyundai Ioniq. Dibeli tahun 2021. Perjalanan terjauhnya: dari Jakarta ke Padang Bay di pantai timur Bali.

"Ada acara keluarga di sana," ujar Deky di rumah saya kemarin malam.

Malam itu 8 orang pecinta mobil listrik kumpul di rumah saya. Mereka menobatkan saya sebagai anggota baru Koleksi –perkumpulan mobil listrik Indonesia. Saya menjadi anggota nomor 99. Diberi baju dan topi Koleksi. Juga stiker dan cangkir Koleksi.

Mereka mampir Surabaya setelah tur jarak jauh: Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya-Banyuwangi, balik lagi mau ke Jakarta. Teman baik saya dr Asro ahli urologi dari Lamongan ikut serta.

Anggota nomor satunya adalah Arwani Hidayat. Ia pendiri dan inisiator Koleksi. Mobilnya juga Hyundai. Juga tahun 2021. Ia-lah ketua pertama Koleksi.

Arwani adalah staf di DPR, di badan legislasi. Sejak tahun 2004. Sejak tamat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Arwani mencoba usaha. Apa saja. Fotokopi. Warnet. Komputer. Dosen.

Lalu kenal orang-orang politik. Ia ditarik menjadi staf di DPR.

Arwani sering ke luar negeri. Termasuk ke Norwegia. Di situlah hati Arwani tergerak: ingin membeli mobil listrik.

Di Norwegia, katanya, taxi pun sudah pakai mobil listrik. Hehe Tesla jadi taksi di sana.

Sebenarnya Arwani sudah terpikat mobil listrik sejak lama. Jauh sebelum ke Norwegia. Yakni sejak seseorang di Indonesia ingin menggalakkan mobil listrik.

Waktu itu ia belum punya uang. Tapi mimpi punya mobil listrik tidak padam. Mimpi itu membara setelah melihat sendiri negara paling sukses memasyarakatkan mobil listrik, Norwegia.

Semua yang ke rumah saya itu menjadikan mobil listrik sebagai yang utama, tapi tetap punya mobil bensin. Deky sudah jarang menggunakan mobil bensinnya: Honda Freed.

Rumah Deky di Cibubur. Tempatnya bekerja di Bekasi. Di PT Kharisma Tunggal Kamikawa. Yakni perusahaan yang memproduksi disinfektan. Deky lahir di Gubeng, lulusan UPN Veteran Surabaya.

Di antara anggota Koleksi yang punya mobil listrik terbanyak adalah Rio Aditya. Ia membeli 10 mobil Hyundai. Itu untuk mobil dinas perusahaan alat kesehatan. Perusahaan itu miliknya sendiri. Rio juga tetap mempertahankan mobil bensinnya: Lexus.

Rio ingat ketika pertama membeli mobil listrik. Belum banyak stasiun charging. Ia pernah di tengah perjalanan. Di kota Jakarta. Ia datangi tempat charging terdekat: lagi rusak. Ia pindah ke charging yang lebih jauh: juga rusak. Akhirnya Rio ke bengkel Hyundai. Ditolak.

"Alasannya, saya beli mobilnya tidak di situ," ujar Rio.

Ia ngotot. Pemilik bengkel menyerah. Ups... Rio yang menyerah. Ia harus membayar Rp 200.000 sekali charging. Apa boleh buat. Demi mobil listrik.

Itu dulu.

Sekarang Hyundai sudah lebih baik. Pemilik mobil Hyundai bisa isi listrik di bengkel Hyundai yang mana pun. Tanpa dipungut harga setrum.

Saya juga –lagi. Rabu sore kemarin. Saat saya ke Pesantren Takeran, Magetan. Ada rapat di situ.

Tesla itu dikemudikan Mas Tomy C. Gutomo dari Surabaya. Saya sendiri naik mobil dari Jakarta. Kami akan bertemu di Takeran. Setelah rapat di pesantren itu saya bisa bersama Mas Tomy kembali ke Surabaya. Sudah ditunggu rapat lainnya.

Simak berita selengkapnya ...