Ia kemudian menekankan agar pihak Perhutani setempat, memastikan area tersebut. Apabila memungkinkan, akar persoalan ini dapat diselesaikan dengan cara saling bekerjasama untuk menggarap kebun tersebut. Ia menyebutkan agar lahan tersebut dapat dikelola bersama dalam bentuk Perhutanan Sosial.
"Cari peta, apakah peta lahan itu masuk pada kategori perhutanan sosial. Kalau bisa masuk pada kategori perhutanan sosial maka kepemilikan atas lahan yang sekarang menjadi kebun kopi itu bisa segera di diskusikan. Pak Imam Suyuti Kepala Perhutani Jember, ini menjadi penting. Setelah ini di cek dicari peta, supaya bisa lebih clear, karena akar masalahnya adalah persoalan kebun kopi yang ada di wilayah Mulyorejo." terangnya, sembari memberi arahan pada Administrator Umum Perhutani Jember yang juga hadir pada rapat tersebut.
Selain itu, dari keterangan yang ada pada rapat koordinasi tersebut, Khofifah juga menyoroti adanya premanisme yang terjadi dan memicu konflik semakin tinggi pada 2 desa tersebut.
"Adannya indikasi premanisme ini (harus) dihentikan karena menimbulkan ketidak-tenangan. Karena adanya premanisme, terutama pada saat musim panen. Kasus ini berpotensi muncul pada saat musim panen." tuturnya.










