“Kenapa demikian? Karena jumlah pemilih pemula pada pemilu dan pemilihan cukup besar. Lalu, pemilih pemula adalah calon pemimpin masa depan dan pertama kalinya memberikan suara dalam pemilu, sehingga perlu diberi pemahaman yang baik tentang demokrasi,” ucapnya.
Selain itu, kata Gogot, kebanyakan pemilih pemula memiliki kondisi psikologis yang labil dan mudah dipengaruhi orang lain dengan informasi yang menyesatkan, mereka merupakan pemilih idealis karena belum punya tanggung jawab. Pemilih pemula yang menggunakan hak pilihnya memiliki kecenderungan untuk terus berpartisipasi pada pemilu selanjutnya.
Pria kelahiran Magetan ini menyebut, sosialisasi dan pendidikan pemilih dapat dikatakan berhasil bila siswa-siswi yang telah memiliki hak pilih ada peningkatan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari apatis menjadi setuju dengan pemilu, serta mau menggunakan hak pilih dengan datang ke TPS.
Secara khusus, acara ini juga dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Jember, Mahrus Samsul. Dalam sambutannya, ia menyebut kegiatan itu merupakan bagian dari penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/sederajat.










