Pendistribusian air bersih untuk masyarakat di Kecamatan Robatal, Sampang. Foto: MUTAMMIM/ BANGSAONLINE
SAMPANG, BANGSAONLINE.com - Krisis air bersih akibat kemarau panjang di 62 desa yang tersebar di enam kecamatan Kabupaten Sampang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah daerah setempat.
Dropping air bersih untuk masyarakat pun mulai bermunculan di tengah pembahasan APBD perubahan 2023 oleh banggar.
BACA JUGA:
- Open House Warnai Perayaan Idul Adha di Sampang
- Polsek Karang Penang Sampang Intensifkan Patroli Sore, Antisipasi Kriminalitas dan Laka Lantas
- Nelayan Jatuh di Perairan Mandangin Sampang Ditemukan Meninggal 14 Km dari Lokasi Awal
- Nelayan Hilang di Perairan Mandangin Sampang Belum Ditemukan, Tim SAR Lanjutkan Pencarian
Salah satu aktivis sosial dari Kecamatan Kedungdung, Arifin, mengungkapkan kekeringan yang melanda Sampang tahun ini lebih parah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Kekeringan saat ini memang tidak bisa dihindari oleh masyarakat, seperti halnya penurunan debit air sumur, sungai, dan waduk. Oleh sebab itu, masyarakat bergantung suplai air bersih dari pemerintah," ucapnya pada BANGSAONLINE.com, Kamis, (26/10/2023).
Menurut dia, suplai air bersih yang diterima oleh masyarakat perlu digarisbawahi. Sebab, banyak warga mengira bantuan itu dari Bupati Sampang atau pemerintah. Padahal, bantuan itu datang dari TNI, Polri, elemen atau komunitas.
"Banyak bantuan air bersih berdatangan untuk masyarakat, hal itu ada yang mengiranya dari Bupati Sampang, padahal itu dari TNI, Polri, elemen atau komunitas. Sedangkan bantuan air bersih yang murni dari APBD masih belum dirasakan oleh masyarakat," ungkapnya.
Arifin menyampaikan hal tersebut menyikapi viralnya video yang menampilkan salah satu warga tengah mengucapkan terima kasih kepada Bupati Sampang atas bantuan air bersih yang diberikan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




