“Belum pernah umat Islam di negeri ini menyatu dalam satu wadah kecuali waktu Hadratussyaikh,” tegas penulis Tafsir Al-Quran Aktual di HARIAN BANGSA, koran yang terbit di Jawa Timur tiap hari.
Hadir dalam acara itu Menkopolhukam Moh Mahfud MD, Putri Gus Dur Yenny Wahid, tokoh muda NU Australia Nadirsyah Hosen, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, adik Gus Dur dr Umar Wahid, Nyai Farida Salahuddin Wahid dan tentu saja tuan rumah, KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh Pesantren Tebuireng.
Menurut Kiai Musta’in Syafii, Hadratussyaikh adalah seorang hafidz (hafal Al-Quran) dan Muhaddits (ahli Hadits). “Ketika belajar di Makkah, Hadratussyaikh bersama teman-temannya di depan ka’bah, berikrar untuk berjuang memerdekaan negeri ini,” kata Kiai Musta’in Syafi’ie sambil menyebut sebuah referensi.
Hadratussyaikh bersama teman-temannya, kata Kiai Musta’in, mengevaluasi kenapa perjuangan para ulama terdahulu belum berhasil memerdekaan negeri ini. Diantara yang dianalisis adalah perjuangan Pahlawan Pengeran Diponegoro.










