Aksi tersebut menampilkan proyeksi video yang menunjukkan peta Indonesia dengan titik lokasi terjadinya perusakan lingkungan seperti deforestasi, perampasan hutan, dan wilayah masyarakat adat, kebakaran hutan dan lahan gambut, pertambangan mulai dari nikel, emas, batu bara, hingga pasir laut serta pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Greenpeace Indonesia menduga Prabowo-Gibran bakal meneruskan pembangunan yang eksploitatif dengan alasan pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Hal tersebut nampak dari visi-misi Prabowo-Gibran untuk menambah lahan food estate hingga 4 juta hektare dan melanjutkan hilirisasi nikel yang sejauh ini terbukti merusak lingkungan dan merugikan masyarakat lokal.
Disamping itu, Greenpeace menyesalkan sikap Prabowo yang memilih beberapa orang yang memiliki rekam jejak bermasalah untuk mengisi kabinetnya.










