Kepala BMKG Sebut Anggaran Program Peringatan Dini Cuaca Naik Signifikan

Kepala BMKG Sebut Anggaran Program Peringatan Dini Cuaca Naik Signifikan

BANGSAONLINE.com - Program strategis peringatan dini cuaca milik BMKG dipastikan aman. Hal tersebut menyusul rekonstruksi efisiensi anggaran pada tahun ini.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa anggaran untuk program peringatan dini cuaca bahkan naik signifikan, termasuk peringatan dini gempa dan tsunami juga mengalami kenaikan signifikan.

Awalnya, ia menyebut anggaran peringatan dini di tengah kebijakan efisiensi anggaran bernilai sebesar Rp5.642.000.000,00. Kemudian, bertambah menjadi Rp191.629.705.175,00. usai adanya rekonstruksi anggaran.

“Untuk peringatan dini gempa bumi dari Rp8,4 miliar saat pagu sebelum rekonstruksi, melompat menjadi Rp28,572 miliar. Yang meningkat signifikan adalah layanan publik informasi dan peringatan dini cuaca, iklim, gempa, dan tsunami," katanya, Kamis (13/2/2025).

"Penambahan anggaran peringatan dini ini untuk operasional di seluruh wilayah Indonesia melalui UPT-UPT di 190-an UPT BMKG di seluruh Indonesia. Di mana, anggaran semula adalah Rp5.642.000.000,00. ini melesat menjadi Rp191 miliar,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, peningkatan anggaran yang signifikan itu dapat menjaga operasional di BMKG, terutama dalam memastikan pelayanan publik terkait peringatan dini tetap berjalan dengan baik.

“Jadi insya Allah, hal ini signifikan untuk menjaga operasional yang ada,” ujarnya. 

Dwikorita menyatakan, BMKG sebelumnya terkena efisiensi anggaran sebesar Rp1,423 triliun. Dengan demikian, pagu anggaran BMKG menjadi Rp1,403 triliun dari semula bernilai Rp2,826 triliun. 

Namun, adanya rekonstruksi membuat anggaran BMKG yang diefisiensi sebesar Rp1,405 triliun, sehingga pagu anggaran pascarekonstruksi itu bernilai Rp1,781 triliun, sebagaimana diatur dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-75/MK.02/2025 tanggal 13 Februari 2025.

“Yang terakhir tadi pagi pukul 09.00 WIB, BMKG akhirnya mendapatkan anggaran, peningkatan sekitar Rp400 miliar. Yaitu menjadi Rp1,781 triliun dari Rp1,045 triliun,” kata Dwikorita. (rom)