Profesor ITS ke 208, Agus Sigit Pramono, ketika menjelaskan penggunaan magnet pada komponen mesin roda gigi. Foto: Ist.
“Tujuannya untuk mengurangi kebisingan, keausan, dan temperatur,” jelasnya.
Dalam penggunaan material seluler, Agus turut mengembangkan pembuatan ban tanpa angin (airless tires) hingga implan lumbar cage dengan struktur lattice. Ban tanpa angin tersebut ditujukan pada daerah yang rawan benda tajam serta kurang memiliki akses penambalan ban. Sedangkan porositas pada material lattice, selain mendapatkan struktur ringan, juga memungkinkan jaringan tulang tumbuh ke dalam implan dan mengunci implan secara stabil ke dalam vertebra sekitarnya.
Selanjutnya pada komponen magnet, lelaki yang telah menyelesaikan doktoralnya di Prancis tersebut mengimplementasikannya pada roda gigi dalam mesin industri. Hal inilah yang memungkinkan agar roda gigi dapat berputar tanpa memerlukan kontak fisik, sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan maupun kebisingan. Selain itu, teknologi ini tidak menggunakan pelumas seperti oli yang mampu memenuhi kebutuhan industri makanan dengan higienitas tinggi.
Meski begitu, Agus juga mengungkapkan bahwa pengembangan inovasi tersebut tidak serta merta menggantikan material pejal pada roda gigi mekanik. Hal tersebut karena kapasitas torsi yang dihasilkan akan tetap berbeda.
“Perlu adanya penyesuaian sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri,” paparnya.
Di akhir, Agus berharap teknologi ini dapat diterapkan penggunaannya dan dapat terus berkembang khususnya pada aspek ekonomis. Selain itu dirinya juga berharap agar teknologi ini mampu menjawab kebutuhan industri.
“Diharapkan hal ini mampu meningkatkan kualitas dan proses produksi saat ini dan ke depannya,” pungkasnya penuh harap. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




