BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) kembali meraih Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Penghargaan ini diperoleh melalui inovasi Program Eco-edufarming yang dikembangkan di Desa Bandangdaja, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dengan melibatkan 28 anggota Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera (BSS).
BACA JUGA:
- Perkuat Silaturahmi, PHE WMO dan SKK Migas Gelar Safari Ramadhan Bersama Insan Media Jawa Timur
- Cegah Abrasi hingga Tingkatkan Ekonomi Warga, PHE WMO Tanam Hexa Reef di Pantai Pasir Putih Tlagoh
- PHE WMO Dorong Konservasi Pesisir dan Ekowisata di Pantai Pasir Putih Tlangoh
- Labuhan Kuning Bangkalan Bangkit Lewat Wisata Mangrove dan Energi Konservasi PHE WMO
PHE WMO sebagai bagian dari Zona 11 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina, mengimplementasikan program ini untuk mengatasi lahan kritis yang memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan struktur tanah yang kurang baik, sehingga kurang mampu mendukung pertumbuhan tanaman.
Secara sosial, masyarakat Desa Bandangdaja belum menguasai pengetahuan dan keterampilan terkait dengan pengelolaan SDA. Sehingga banyak potensi desa yang belum optimal dimafaatkan. Hal tersebut juga membuat masyarakat Desa Bandangdaja lebih memilih merantau daripada hidup di desa.
Selain itu, volume limbah kotoran hewan di desa cukup tinggi. Masyarakatnya pun mengalami ketergantungan pasokan sayur dan buah dari luar pulau.
Ketua Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera, Ahmad Marnawi, membenarkan jika selama ini banyak lahan pertanian di Bandangdaja yang kering dan tidak bisa dimanfaatkan.
Warga jarang mengonsumsi sayur dan buah karena pasokan tersebut didatangkan dari Jawa sehingga membuat harga sayur dan buah mahal.
Warga juga mencoba beternak sapi, namun saat kemarau, tak mudah bagi mereka untuk mencari pakan ternak. Kekeringan lahan membuat petani tidak sejahtera dan ini berdampak pada sektor pendidikan.
Hasilnya, PHE WMO mengubah kemustahilan menjadi keniscayaan. Program ini berhasil meningkatkan produktivitas 6,7 hektare lahan kering dan memanfaatkan 95,8 ton limbah ternak untuk pupuk organik.
Selain itu, lebih dari 6 ton cocopeat per tahun dimanfaatkan untuk membantu penghematan air dengan menggunakan sistem pertanian regeneratif berbasis teknologi tepat guna.
Manager WMO Field, M. Basuki Rakhmad, mengatakan perusahaan juga memperkenalkan alat soil nutrient sensor kepada warga untuk mengukur kandungan nutrisi penting dalam tanah seperti nitrogren, fosfor, dan juga kalium.
Alat ini membantu petani untuk menyesuaikan pengaplikasian pupuk agar tanaman mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Penggunaan sensor dapat memastikan tanaman petani tumbuh dengan optimal dan hasil panen yang lebih baik dengan tingkat keberhasilan 99,3 persen.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




