70 Mahasiswa Unikama Ikuti Kuliah Terpadu Empat Bidang Ilmu di Desa Jambuwer Malang

70 Mahasiswa Unikama Ikuti Kuliah Terpadu Empat Bidang Ilmu di Desa Jambuwer Malang Para peserta Kuliah Terpadu Satrasia saat melakukan sesi foto bersama

Mereka membagikan ilmu soal teknik liputan, penulisan feature news, wawancara, hingga pentingnya membangun jejaring dan menjaga integritas .

“Jangan tunggu lulus. Mulai bangun portofolio dari sekarang,” ujar Adi Wiyono.

Sedangkan Febri menambahkan, Desa Jambuwer memiliki sumber berita yang melimpah. Ia mengarahkan, bagaimana mahasiswa mengolahnya jadi tulisan yang hidup.

Usai pelatihan, mahasiswa ditantang menulis artikel dari potensi lokal. Mulai dari pertanian, peternakan, ritual budaya, hingga kesenian rakyat. 

Semua karya mereka wajib diunggah ke salah satu media online dan YouTube sebagai latihan diseminasi gagasan. Kegiatan ini juga diwarnai sesi Refleksi, Diskusi, dan Dialog Budaya.

Padatnya kegiatan berlangsung sejak hari pertama. Ada sesi untuk refleksi dan pemaparan temuan awal. Keesokan harinya, mereka berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk mengkaji hasil lapangan dari sudut pandang teori.

Tim dosen yang mendampingi antara lain Dr. Wadji, M.Pd., Dr. Gatot Sarmidi, M.Pd., Dr. Hadi Wardoyo, M.Pd., dan Ketua Prodi PSP Satrasia, Drs. Suryantoro, M.Pd.

“Ini pendidikan kontekstual. Mahasiswa menyelami kehidupan masyarakat, berdialog langsung, mencatat, mencipta. Ini pengalaman belajar yang utuh,” kata Suryantoro.

Kepala Desa Jambuwer, Mujiono, S.Pd., secara resmi membuka kegiatan di Wisata Edukasi Jowaran. Ia menyambut hangat kehadiran mahasiswa.

“Desa kami terbuka untuk kegiatan akademik. Mahasiswa belajar dari kami, kami juga belajar dari mereka. Ini sinergi yang saling memperkaya,” ujar Mujiono.

Belajar Hidup, Bukan Sekadar Teori

Mochamad Sahrul Gunawan, ketua panitia mahasiswa, menyebut ini sebagai pengalaman yang membekas.

“Kami belajar langsung dari lapangan. Menulis kisah rakyat, hidup bersama warga, menjual produk sendiri, berdiskusi soal budaya. Semua ini pengalaman nyata,” katanya.

Mahasiswa juga dilatih untuk menjadi komunikator budaya. Mereka tak hanya mencatat masa lalu, tapi juga merancang masa depan melalui literasi, kreativitas, dan kolaborasi.

Dari desa ini, gema lokal mahasiswa Satrasia mulai terdengar ke seluruh penjuru nusantar melalui cerita rakyat, video dokumenter, dan produk budaya yang mereka ciptakan sendiri. (asa/van)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Warung Bebek Goreng H. Slamet di Kota Malang Terbakar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO