Kaesang Pangarep. Foto: YouTube
SOLO, BANGSAONLINE.com-Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) usai. Seperti sudah bisa diduga, Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, terpilih kembali sebagai ketua umum. Salah satu agenda utama Kongres PSI kali ini adalah pergantian logo.
Semula PSI berlogo bunga mawar plus tangan mengepal. Kini logo PSI diganti gambar gajah. Nah, logo gajah itulah yang dipamerkan lewat jaket yang dikenakan Jokowi, ayah Kaesang Pangarep, yang juga mantan Presiden RI.
BACA JUGA:
- Roy Suryo dan Rismon Sianipar Tersangka Kasus Ijazah Jokowi, Polisi Ungkap Dua Klaster
- KPK Dianggap Tak Masuk Akal, Mahfud MD: Jika Mau Selidiki Dugaan Mark up Whoosh Tak Perlu Laporan
- DPD PSI Gresik Klaim Sejumlah Kader Partai Siap Bergabung
- Wow! Jokowi Targetkan PSI Raih 30 Kursi DPR, Butuh Dana Rp 2,5 Triliun
Andi Budiman, mantan Plt Ketua Umum PSI, mengungkap kenapa PSI memakai logo gajah. Menurut dia, gajah adalah makhluk bijaksana, cerdas dan tak pernah lupa.
Yang menarik, warna kepala gajah itu merah. Sedang tubuhnya berwarna hitam. Mirip warna khas PDIP. Partai yang dulu menjadi kendaraan politik Jokowi. Namun kini menjadi partai yang berseteru berat dengan Jokowi. Terutama Ketua umumnya. Megawati Soekarnoputri.
Dulu para pengurus PSI beralasan bahwa PSI memakai logo bunga mawar karena terinspirasi ucapan Bung Karno. Yang tak lain ayahanda Megawati Soekarnoputri.
Pada 1959 Bung Karno memang mengatakan, “Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya. Dengan sendirinya, harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya”. Itulah yang saat itu menjadi salah satu alasan PSI memakai lambang bunga mawar.
Ternyata bunga mawar itu tak membuat PSI semerbak. Buktinya, pada pemilu 2024 PSI tak lolos ke Senayan. Yang pasti, bunga mawar dan tangan mengepal itu dalam dunia internasional adalah lambang kelompok sosialis.
Apakah dengan logo baru PSI akan besar seperti gajah? Tampaknya sulit. Bahkan makin sulit.
Kenapa? Pertama, figur utama PSI adalah Jokowi. Secara faktawi sekarang reputasi Jokowi semakin redup. Alih-alih Jokowi bisa membesarkan PSI. Untuk menyelamatkan diri dari guncangan stigma ijazah palsu saja susahnya bukan main.
Apalagi PSI kini cenderung jadi partai keluarga. Bahkan kongresnya pun ditaruh di Solo, dekat kediaman Jokowi. Jadi atmosfir PSI makin sempit.
Kedua, momentum Jokowi sudah lewat. Jokowi punya peluang besar membesarkan PSI ketika ia menjabat sebagai presiden. Saat itu Jokowi punya segala-galanya. Mulai kekuasaan, kharisma, jaringan, dana dan aparat untuk menekan secara politik.
Kini aura Jokowi sudah habis. Lihat saja fenomena di media sosial. Tiap hari sosok Jokowi dijadikan meme lucu yang sangat memprihatinkan. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia mantan presiden Indonesia direndahkan dan diolok-olok rakyatnya sendiri seperti Jokowi.
Bung Karno pernah menjadi pesakitan politik Orde Baru. Tapi yang melakukan marginalisasi politik hanya sebatas elit-elit politik Orba, terutama Soeharto dan kroni-kroninya. Mayoritas rakyat Indonesia tetap menghormati dan menghargai Soekarno. Bahkan meski pada Orba sangat represif dengan cara menyensor dan membatasi karya-karya Bung Karno tapi pemikiran-pemikiran presiden RI pertama itu masih terus diburu dan menjadi konsumsi publik.
Jokowi sebaliknya. Meski Presiden Prabawo Subianto meneriakkan “hidup Jokowi” tapi rakyat tak peduli. Mereka terus menghujat Jokowi dan keluarganya. Bahkan banyak tokoh dan rakyat Indonesia justru menyayangkan sikap politik Prabowo. Mereka mempertanyakan, untuk apa Prabwo maih membela Jokowi. Toh hutang budi politik Prabowo sudah terbayar dengan naiknya Gibran Rakabuming Rakam, putra sulung Jokowi, sebagai wapres. Menurut mereka, Gibran sangat membenbani Prabowo dan bangsa Indonesia.
Ketiga, PSI semakin mengerucut menjadi partai keluaga. Yaitu keluarga Jokowi. Persepsi ini muncul sangat kuat dan meluas di mata publik. Terutama ketika Jokowi secara serius dan bersemangat mengatakan akan membela dan bekerja keras untuk PSI yang ketua umumnya adalah anak kandungnya sendiri. Otomatis PSI dikuasai ayah dan bapak.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




