Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Mengapa Indonesia Sulit Maju? Khariri Makmun.

Oleh: Khariri Makmun*

Di, pejabat publik rata-rata beroperasi pada level kesadaran yang rendah. Ketika kursi kekuasaan mereka duduki, yang muncul bukan kebijaksanaan, melainkan arogansi, kesewenang-wenangan, korupsi, dan kebijakan yang justru menyengsarakan rakyat. Fenomena ini bukan sekadar asumsi, melainkan realitas yang bisa dilihat setiap hari. DPR yang sibuk dengan politik transaksional, menteri yang terjebak kasus korupsi, presiden yang kompromistis pada oligarki, dan aparat birokrasi yang lebih sering menjadi penghambat ketimbang pelayan masyarakat.

David R. Hawkins dalam karyanya Power vs Force menjelaskan skala kesadaran manusia, dari level terendah (rasa malu, takut, marah, dan kebanggaan) hingga level tertinggi (cinta, kebijaksanaan, pencerahan). Menurut Hawkins, manusia yang hidup di bawah level 200 (kesadaran rendah) hanya beroperasi pada mode survival. Hidupnya digerakkan oleh rasa kekurangan, ketakutan, dan dorongan mempertahankan diri. Jika orang-orang dengan kesadaran rendah ini menduduki jabatan publik, maka kekuasaan otomatis dijadikan ajang memperkaya diri, aji mumpung, dan perebutan rente.

Inilah yang terjadi pada sebagian besar pejabat publik di. Kursi kekuasaan dijadikan instrumen survival: memperkaya diri, memperkuat dinasti politik, dan memperbesar jaringan kroni. Mereka bukan pelayan rakyat, melainkan perpanjangan tangan oligarki. Ketika level kesadaran pejabat rendah, mereka mudah dikendalikan oleh elite partai, pemilik modal, dan kepentingan asing. Kekuasaan bukan lagi amanah, melainkan komoditas.

Ulama klasik sudah lama memperingatkan hal ini. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyyah menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki al-‘adalah (integritas moral-mempejuagkan keadilan) dan al-kafa'ah (kapasitas intelektual dan teknis). Tanpa dua kualitas itu, kekuasaan akan jatuh pada kezhaliman. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga mengingatkan, keruntuhan sebuah peradaban dimulai ketika pemimpin lebih mementingkan kemewahan, harta, dan kedudukan daripada tanggung jawab sebagai pelayan rakyat.

Para ulama menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal kecerdasan intelektual (IQ), melainkan juga kedalaman spiritual dan moralitas. Inilah yang dalam bahasa Hawkins bisa kita sebut sebagai level kesadaran tinggi. Pemimpin yang tercerahkan akan menjadikan jabatan sebagai sarana pengabdian, bukan sarana survival.

Pengamat politik, Jeffrey Winters, menyebut sebagai “oligarki elektoral”. Demokrasi berjalan hanya sebatas prosedural, sementara substansinya dikendalikan oligarki ekonomi. Para politisi tidak berdaulat karena dikuasai para cukong. Artinya, kesadaran mereka berhenti di level transaksional, bukan pada level pengabdian atau pencerahan.

Negarawan besar dunia juga sudah memberi isyarat pentingnya kepemimpinan tercerahkan. Soekarno pernah menegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang sibuk mengejar kekuasaan, melainkan yang mau menanggung derita rakyat. Nelson Mandela menjadi contoh hidup: ia berkorban puluhan tahun di penjara bukan demi tahta, melainkan demi kesetaraan bangsanya. Abraham Lincoln juga menyebut, ujian tertinggi moral manusia bukan saat ia dalam kesengsaraan, melainkan ketika ia memegang kekuasaan. Sayangnya, sebagian besar pejabat kita gagal dalam ujian itu.

Mengapa Terjebak?

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Ditjen Bea Cukai Ditegur Menkeu Terkait Oknum Penjual Pita Rokok':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO