Empat Indikator Gus Yahya di Ujung Tanduk, Atasi Konflik NU Butuh Kiai Kharismatik dan Berwibawa

Tapi ketika Rais Aam Syuriah PBNU KH Ali Maksum Lasem Rembang, KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan KH Mahrus Ali Lirboyo Kediri meminta mundur, Kiai Idham Chalid sami’na wa’atha’na. 

Memang surat pernyataan mundur itu sempat dicabut - karena ada bisikan dari sahabat sesama politisinya. Tapi Kiai Idham kemudian tetap mundur. Hebatnya, Kiai Idham dengan besar hati tetap hadir pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada 1984.

Ini contoh penyelesaian konflik elegan dan berbudaya. Penyelesaian ini sukses karena ada faktor kiai-kiai berwibawa, arif dan berintegritas. Sehingga memiliki pengaruh besar. Problem sekarang, kita krisis kiai bijak, berintegritas dan berwibawa. Yang bisa diterima semua pihak.

Sehingga konflik antara Kiai Miftah – panggilan KH Miftachul Akhyar- dan Gus Yahya sulit tercapai konsensus dan win-win solution. Kemungkinan besar justeru pemecatan sepihak. Pertanyaanya, bagaimana dengan perlawanan Gus Yahya? Bisakah ia mempertahankan posisinya sebagai Ketua Umum PBNU. Tampaknya sulit.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: