Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany saat menyerahkan cinderamata kepada Kasi II Bidang Intelijen Kejati Jatim Dwi Setyadi
NGANJUK,BANGSAONLINE.com - Kejaksaan Tinggi Jawa Timur memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada santri Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono yang dipersiapkan menjadi juru dakwah LDII, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kasi II Bidang Intelijen Kejati Jatim Dwi Setyadi, didampingi Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen Abdullah beserta jajaran.
BACA JUGA:
- Misteri Pembacokan Wanita Muda di Nganjuk: Korban Luka Parah, tapi Motor Beat Utuh di Lokasi
- Film Pesta Babi di Nganjuk Disambut Antusias Penonton
- Pimpin LDII Gresik Periode 2026-2031, Khusnul-Fajar Siap Berkolaborasi dengan Pemerintah
- Musda X LDII Gresik Digelar, Enam Kandidat Berebut Kursi Ketua Baru
Pembekalan difokuskan pada penguatan moderasi beragama sebagai upaya menangkal paham radikalisme dan intoleransi di tengah masyarakat.
Abdullah menegaskan santri memiliki peran strategis sebagai agen toleransi dan perekat persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Ia mengingatkan santri agar berpegang pada prinsip khoirun nas anfauhum linnas dalam kehidupan bermasyarakat.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai inilah yang harus dipegang santri ketika terjun dan mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap para santri mampu menyampaikan syiar Islam secara bijak dan menyejukkan tanpa meninggalkan kearifan lokal, selama tidak bertentangan dengan akidah dan norma yang berlaku. Sikap saling menghargai dinilai menjadi kunci menjaga kerukunan masyarakat yang majemuk.
Di hadapan 1.066 santri, Abdullah menekankan bahwa Indonesia merupakan negara milik bersama seluruh elemen bangsa, bukan milik satu golongan atau agama tertentu. Pemahaman tersebut penting untuk mencegah tumbuhnya sikap eksklusif dan radikal.
“Indonesia ini negara beragama, bukan hanya milik umat Islam, tetapi negara bersama yang diperjuangkan oleh semua elemen sejak sebelum kemerdekaan,” ujarnya.
Abdullah menjelaskan, radikalisme berawal dari sikap eksklusif yang merasa paling benar. Karena itu, santri diharapkan menjadi garda terdepan dalam merawat kebhinekaan dan memperkuat persatuan bangsa.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur Moch Amrodji Konawi mengatakan penguatan nilai kebangsaan menjadi prioritas utama dalam delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




