Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan Dewan Negara Tertinggi Negara Persatuan Rusia dan Belarus di Moskow, Rusia, 26 Februari 2026. Foto: REUTERS/Ramil Sitdikov/Pool
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Presiden Rusia, Vladimir Putin menawarkan diri dengan memanfaatkan pengaruh Moskow dengan Iran, untuk mengembalikan ketenangan di Timur Tengah, setelah AS-Israel melakukan serangan.
Melansir kantor berita Reuters, Rabu (4/3/2026), Putin melakukan panggilan telepon dengan para pimpinan tiga negara Teluk Arab, dan menawarkan diri sebagai mediator antara mereka dengan Iran.
BACA JUGA:
- Kritik Tajam Piala Dunia 2026: FIFA Dituduh Rakus, Pemain Diperas, hingga Masalah Diskriminasi Fans
- BNN Tangkap Dua WN Rusia di Bali, Sita 7,8 Kilogram Hashish Jaringan Internasional
- Oman Tolak Tekanan AS untuk Putus Hubungan dengan Iran Terkait Sengketa Selat Hormuz
- Iran Tangguhkan Perundingan dengan AS, Pasca-Serangan Israel ke Lebanon
Dalam panggilan telepon dengan para pimpinan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Qatar pada Senin (2/3) waktu setempat, Putin mengkritik serangan AS-Israel terhadap Iran.
Sementara itu, Negara-negara Arab yang berada di Teluk tersebut, semuanya merupakan sekutu dekat AS, yang telah menjadi sasaran serangan drone dan rudal iran sejak Amerika dan Israel melancarkan serangan udara pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Dari pernyataan Kremlin terkait panggilan telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Putin menawarkan diri untuk bertindak sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan UEA, soal serangan tersebut ke Teheran.
Selama panggilan telepon tersebut, "kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik dan diplomatik," tambah Kremlin.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




