Lia Istifhama, Anggota DPD RI.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Di tengah tantangan kelangkaan minyak dan ketergantungan pada energi fosil, langkah pemerintah dalam mengembangkan energi alternatif mulai mendapat perhatian serius.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama, mengapresiasi arah kebijakan nasional yang mendorong pemanfaatan bioetanol sebagai solusi energi masa depan.
BACA JUGA:
- Sokong Makan Bergizi Gratis, Presiden Prabowo Resmikan 10 Gudang Pangan dan 166 SPPG Polri
- Pimpin Panen Raya Jagung 1,23 Juta Ton Serentak di Tuban, Presiden Prabowo Coba Combine Harvester
- Presiden Prabowo Janjikan Bintang Mahaputera untuk Kapolri dan Panglima TNI, ini Alasannya
- 200 Siswa Surabaya Diduga Keracunan MBG, Ning Lia: Harus Ada Penyesuaian Porsi Sesuai Kemampuan SPPG
Pandangan tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa sektor tebu kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penghasil gula, melainkan memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan.
“Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional,” ujar Lia Istifhama, pada Kamis (02/04/2026).
Perubahan cara pandang terhadap tebu menjadi poin penting dalam upaya transisi energi. Selama ini, tebu identik dengan produksi gula, namun kini memiliki nilai tambah melalui hasil samping berupa tetes (molasses).
Tetes tebu dapat diolah menjadi bioetanol, bahan bakar ramah lingkungan yang mampu menjadi alternatif pengganti energi fosil. Transformasi ini membuka peluang besar dalam menjawab tantangan kelangkaan minyak sekaligus mendukung agenda energi bersih.
Dengan pendekatan ini, tebu tidak lagi sekadar komoditas pangan, tetapi menjadi bagian dari solusi energi nasional.
Sebagai daerah penghasil lebih dari 50 persen gula konsumsi nasional, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam pengembangan bioetanol.
Infrastruktur industri gula yang telah mapan menjadi modal penting untuk mempercepat produksi bioetanol secara masif dan berkelanjutan.
“Kalau potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga bisa menjadi pusat energi hijau nasional,” tegas Lia.
Dengan potensi tersebut, Jawa Timur dinilai mampu menjadi motor penggerak transformasi energi berbasis sumber daya lokal.
Pengembangan bioetanol tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memberikan efek langsung terhadap kesejahteraan petani.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




