Khariri Makmun. Foto: dok. pribadi
Oleh: Khariri Makmun (Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor)
Di saat dunia sedang bertarung memperebutkan teknologi, data, dan kecerdasan buatan, Nahdlatul Ulama justru terlihat sibuk bertarung dengan dirinya sendiri. Konflik internal, perebutan pengaruh elit, kontroversi politik, hingga merosotnya kualitas kepemimpinan membuat organisasi ini tampak kehilangan fokus strategis. Energi besar NU habis untuk turbulensi internal, sementara dunia di luar bergerak sangat cepat menuju tatanan baru berbasis teknologi digital dan kontrol informasi.
Padahal organisasi sebesar NU seharusnya menjadi pusat orientasi umat dalam menghadapi perubahan global, bukan malah larut dalam krisis internal yang berkepanjangan.
Hari ini, pertanyaan paling penting bagi NU bukan lagi soal jumlah anggota atau seberapa luas jaringan pesantrennya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah NU masih memiliki visi peradaban untuk menghadapi dunia yang berubah sangat cepat?
Sebab dunia yang sedang datang bukan lagi dunia yang dikenal para pendiri NU seratus tahun lalu. Kita sedang memasuki era disrupsi global kecerdasan buatan menggantikan banyak pekerjaan manusia, kapitalisme digital menguasai perilaku masyarakat, algoritma media sosial membentuk cara berpikir umat, perang tidak lagi hanya menggunakan senjata, tetapi data dan opini, geopolitik dunia bergerak menuju multipolar, krisis pangan, energi, dan perubahan iklim mengancam stabilitas sosial, sementara identitas agama semakin sering dipakai sebagai alat mobilisasi politik.
Di tengah perubahan sebesar itu, NU justru tampak sibuk dengan konflik internal, perebutan pengaruh elit, dan kontroversi yang melelahkan publik. Inilah problem paling serius NU hari ini krisis kepemimpinan strategis.
NU tampak besar secara massa, tetapi belum terlihat memiliki grand strategy yang jelas untuk menghadapi perubahan peradaban global. Banyak elit organisasi masih berpikir dalam kerangka politik jangka pendek, padahal tantangan dunia sudah bergerak jauh melampaui logika elektoral dan perebutan jabatan.
Akibatnya, NU berisiko tertinggal dalam momentum sejarah. Padahal jika dilihat dari potensinya, NU sebenarnya memiliki modal luar biasa jutaan anggota, ribuan pesantren, jaringan pendidikan, rumah sakit,. basis sosial akar rumput, legitimasi keagamaan, dan pengaruh budaya yang sangat luas.
Tetapi potensi sebesar itu belum berhasil dikonsolidasikan menjadi kekuatan peradaban modern. NU masih lemah dalam teknologi, riset, ekonomi strategis, media global, industri digital, kecerdasan buatan, hingga penguasaan geopolitik internasional.
Ironisnya, di saat dunia sedang memasuki era kompetisi teknologi dan data, sebagian elit organisasi justru lebih sibuk membangun citra politik dan manuver kekuasaan domestik.
Padahal ancaman terbesar masa depan bukan lagi semata kolonialisme fisik, tetapi kolonialisme algoritma.
Hari ini, kesadaran manusia dibentuk oleh platform digital global. Cara berpikir generasi muda dibentuk oleh TikTok, YouTube, Instagram, dan mesin AI. Otoritas keilmuan pesantren menghadapi tantangan serius karena anak muda lebih percaya influencer daripada ulama.
Jika NU gagal memahami perubahan ini, maka perlahan NU hanya akan menjadi organisasi nostalgia besar secara sejarah, tetapi kecil pengaruhnya terhadap masa depan.
Karena itu, NU membutuhkan redefinisi visi kepemimpinan. NU tidak cukup dipimpin oleh figur yang hanya kuat secara politik internal. NU membutuhkan pemimpin peradaban. Pemimpin yang mampu membaca perubahan dunia, memahami geopolitik global, menguasai transformasi digital, tetapi tetap berpijak pada tradisi Aswaja dan akar pesantren.
Sayangnya, problem NU hari ini justru terletak pada menyempitnya horizon kepemimpinan. Banyak energi organisasi habis dalam konflik elit dan perebutan posisi. Kepemimpinan sering diukur berdasarkan jaringan kekuasaan, bukan kapasitas intelektual dan visi strategis.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




