Dr KH Israqunnajah atau Gus Is, Ketua PCNU Kota Malang. Foto: dok. PCNU Kota Malang
MALANG, BANGSAONLINE.com – Bermacam cara warga NU dan kiai NU berhidmat di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Ada yang menyumbang dana untuk kegiatan atau aktivitas NU. Namun ada juga yang secara suka rela menanggung pembayaran listrik dan gaji karyawan tiap bulan. Bahkan juga ada yang menghibahkan tanah dan rumah untuk kantor NU.
Semua itu mereka lakukan, selain untuk tabarrukan kepada para muassis (pendiri) NU – terutama terhadap Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari – juga untuk menghidupkan syiar Islam lewat NU. Jami’yah atau organisasi NU – dengan demikian – menjadi ladang pengabdian, bukan lahan mencari keuntungan pribadi dan keluarga.
Ini pula yang dilakukan Dr KH Israqunnajah, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang. Gus Is, panggilan akrab kiai santun itu, tak pernah ambil untung dari jabatannya sebagai ketua PCNU. Gus Is bahkan tak pernah mau menggunakan bisyarah hasil ceramah untuk kepentingan pribadi. Ia menyadari ia diundang ceramah ke mana-mana karena menjabat ketua PCNU.
Apakah ia menolak bisyarah ceramah? O tidak. Setiap dikasih amplop seusai ceramah ia terima. Tapi tak pernah ia buka, apalagi menghitung. Semua amplop berisi uang itu ia taruh di sebuah tas tersendiri, tidak dipakai untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Sampai 5 tahun.
Nah, suatu saat PCNU Kota Malang mau menggelar Konfercab dan peringatan Hari Santri Nasional. Gus Is iseng menanyakan ketersediaan dana kepada panitia. Karena Gus Is juga ingin ada cendera mata kepada para pengurus PCNU yang akan segera berakhir.
"Mas, masak tidak ada kenang-kenangan untuk peserta konfercab dari kepengurusan kita. Apa gitu mas?" tanya Gus Is kepada panitia seperti ditulis Khoirul Anwar, Ketua OC Konfercab NU Kota Malang di portal PWNU Jatim.
"Sebenarnya ya sangat ingin, Gus. Tapi ya itu, untuk keperluan hari H, ini masih ikhtiar),” jawab panitia.
Tampaknya panitia masih kekurangan dana. Biasanya pengurus PCNU Kota Malang patungan untuk menambal kekurangan.
“Sepertinya kita harus patungan lagi, Gus,” kata panitia.
Tapi Gus Is langsung menyela.
“Insyaallah tidak,” ujar putra KH Masduki Mahfudz, mantan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur yang juga pendiri Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang.
Saat itulah Gus Is mambuka tas. "Gini Mas. Ini Insyallah ada uang. Tapi berapa saya tidak tahu. Banyak. Tidak pernah saya buka, apalagi hitung)," ujar Gus kemudian.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




