Ringkasan Berita
- Gus Kikin digambarkan sebagai sosok yang lahir dari keluarga ulama besar, berpendidikan, wawasan luas, dan sukses dalam dunia usaha, namun tetap rendah hati dan sederhana.
- Ia adalah pribadi yang ramah, santun, mudah ditemui, dan lebih memilih mengabdi untuk pesantren, pendidikan, umat, serta NU daripada mencari panggung atau pengakuan.
- Gus Fahrur menyebut Gus Kikin sebagai "kiai yang sudah selesai dengan dirinya sendiri", yang artinya tidak sibuk dengan ambisi pribadi, sehingga lebih siap mengurus dan membesarkan orang lain serta organisasi.
- PBNU kedepan dinilai membutuhkan pemimpin dengan karakter seperti Gus Kikin, yaitu yang siap bekerja dan mengabdi, bukan yang paling banyak ambisi atau sibuk membesarkan diri sendiri.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur 1 Bululawang Malang, Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menceritakan sosok KH. Abdul Hakim, atau yang lebih sering disapa Gus Kikin.
Gus Fahrur mengatakakan bahwa telah mengenal Gus Kikin sejak lama. Saat masih sama-sama di PWNU Jatim hingga PBNU.
“Saya mengenalnya sebagai kolega ketika masih bersama-sama di PWNU Jawa Timur dan kemudian di jajaran pimpinan PBNU,” kata Gus Fahrur yang kini menjabat sebagai Ketua PBNU kepada BANGSAONLINE via WhatsApp, Senin (10/8/2026).
Ia juga mengaku sering berkunjung ke rumah Gus Kikin. Demikian sebaliknya, Gus Kikin juga pernah berkunjung ke rumah Gus Fahrur. Selain itu, Gus Fahrur juga pernah menginap bersama di Villa Solong, Banyuwangi, sambil berdiskusi panjang.
“Dari kedekatan itulah saya melihat sosok Gus Kikin yang sebenarnya,” jelasnya.
Gus Fahrur menguraikan bahwa Gus Kikin merupakan sosok yang lahir dari keluarga ulama besar, berpendidikan, wawasan luas, termasuk sukses dalam dunia usaha, namun semua itu tidak membuatnya tinggi hati.
Bahkan, lanjut Gus Fahrur, Gus Kikin merupakan pribadi yang sederhana, ramah, santun, menyenangkan dalam pergaulan, dan mudah ditemui. Baginya, satu kalimat yang tepat untuk menggambarkan Gus Kikin adalah:
“Gus Kikin adalah kiai yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,” terang Gus Fahrur.
Kalimat tersebut ia ucapkan lantaran Gus Fahrur tahu betul tentang Gus Kikin, bahwa Gus Kikin telah dikenalnya sebagai sosok yang tidak sibuk mencari panggung, tidak haus pengakuan, juga tidak menunjukkan kebesaran. Dari pada untuk itu, Gus Kikin lebih memilih menghabiskan waktu dengan pesantren, pendidikan, umat, dan NU.
Kedepan, lanjut Gus Fahrur lagi, PBNU membutuhkan pemimpin dengan karakter seperti ini. Bukan yang paling banyak ambisi, tetapi yang paling siap bekerja dan mengabdi. Bukan yang sibuk membesarkan dirinya, tetapi yang siap membesarkan NU, pesantren, dan umat.
“Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, biasanya lebih siap mengurus orang lain,” pungkasnya. (afa/msn)










