Gus Shohib Sambut Optimisme Kepemimpinan Baru PBNU

PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Tokoh muda Nahdliyin sekaligus praktisi media, Shohibul Hujjah, menyambut penuh optimisme terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU, bersama jajaran Syuriyah di bawah kepemimpinan KH Miftachul Akhyar (Abuya Miftah).

Pria yang akrab disapa Gus Shohib itu menilai, duet Gus Kikin dan Abuya Miftah merepresentasikan kepemimpinan paripurna untuk menjawab harapan Presiden Prabowo, terutama terkait penguatan peran historis, stabilitas sosial, dan kebangkitan ekonomi umat berbasis tradisi kultural.

“Kultur pesantren besar di Jawa Timur membentuk integritas kepemimpinan yang bersahaja, mandiri, dan berakar pada nurani umat, ujarnya pada Senin (31/8/2026). 

"Duet Gus Kikin dan Abuya Miftah bukan hanya menghadirkan kepemimpinan formal, melainkan membawa kembali marwah keulamaan pesantren yang teduh, berprinsip, dan mampu mengayomi lintas generasi serta kelompok,” imbuhnya.

Menurut dia, kekuatan kepemimpinan PBNU saat ini berakar pada tradisi keilmuan dan spiritualitas pesantren besar di Jawa Timur. Gus Kikin berakar dari Pesantren Tebuireng Jombang, sementara Abuya Miftah dari Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya.

Dalam pidato penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Presiden Prabowo menaruh harapan agar NU terus menjadi pilar stabilitas nasional, perdamaian, serta motor penggerak keadilan sosial ekonomi.

Gus Shohib menegaskan profil Gus Kikin yang memadukan kultur ulama pesantren dengan kapasitas manajerial dan kewirausahaan modern relevan menerjemahkan visi tersebut.

“Pesan Presiden bahwa ‘tidak ada kemakmuran tanpa keadilan’, serta komitmen memberdayakan jejaring pesantren sebagai pilar ekonomi kerakyatan, menemukan momentum terbaiknya saat ini," katanya. 

"Gus Kikin memiliki akar tradisi keulamaan yang luhur dan jiwa wirausaha teruji, sementara Abuya Miftah menjadi kompas moral dan syariat yang kokoh,” sambungnya.

Optimisme ini juga didukung rekam jejak Gus Kikin yang pernah aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (2000–2013).

“Kombinasi nilai luhur pesantren dan wawasan modern ini memperkokoh posisi NU sebagai jangkar rekonsiliasi kebangsaan. Kami siap bersinergi dan mengawal gagasan besar kepengurusan PBNU demi maslahat umat dan kemandirian bangsa,” ucap Gus Shohib. (afa/mar)