Pendiri NU dan Pejuang Kemerdekaan Banyak Wartawan dan Tokoh Pers

Pendiri NU dan Pejuang Kemerdekaan Banyak Wartawan dan Tokoh Pers M. Mas'ud Adnan, M.Si, saat menerima kunjungan 42 santri aktivis pers Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto di kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE Jalan Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya, Selasa (9/6/2026). Foto: HARIAN BANGSA

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pendiri atau founder HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com, Muhammad Mas’ud Adnan, M.Si, menegaskan bahwa pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia banyak berlatar belakang (jurnalis) dan .

“Para ulama besar seperti Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Abdul Chalim dan kiai NU lainnya adalah . Kiai Wahab Hasbullah adalah pendiri surat kabar Soeara Nahdlatoel Oelama. Begitu juga Kiai Abdul Chalim, ayahanda Abah Yai Asep Saifuddin Chalim, juga redaktur koran Soeara Nahdlatoel Oelama, “ ujar Mas’ud Adnan saat menerima kunjungan 42 santri aktivis pers Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto di kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE Jalan Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya, Selasa (9/6/2026).

“Kita lihat juga tokoh NU Kiai Abdul Wahid Hasyim, yang juga salah seorang the Founding Fathers Negara Indonesia, aktif menulis dan menebar pemikiran dan gagasannya di media massa,” ujar Mas’ud Adnan.

M. Mas'ud Adnan menjalaskan tentang pentingnya para santri memiliki kemampuan menulis, meski bukan .

Menurut Mas’ud Adnan, bukan hanya yang merupakan . Para tokoh pendiri Negara Republik Indonesia juga banyak bahkan mayoritas berlatar belakang  . Ia menyebut Agus Salim, Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto, dan the Founding Fathers lainnya.

Dalam sejarah kita menyaksikan bahwa Bapak dikenal sebagai Ketua Redaksi Harian Neratja. Beliau juga pemimipin surat kabar Hindia Baroe, Fadjar Asia, dan Bendera Islam,” ujar alumnus Pesantren Tebuireng dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surbaya (Stikosa-AWS) itu.

“Jadi beliau dalam masa pergerakan nasional itu dalam kapasitas sebagai ,” tambah Mas’ud Adnan.

Menurut Mas’ud Adnan, Ki Agus Salim adalah seorang jurnalis atau yang kritis, berani dan idealis serta nasionalis.

Ki Agus Salim, tegas Mas’ud, memanfaatkan pers untuk menyuarakan nasionalisme bangsa.

“Pada masa itu beliau mengkritik kebijakan kolonial, dan melawan praktik eksploitasi yang dilakukan pihak penjajah,” ujarnya.

Begitu juga . “Pak Tjokroaminoto yang kediamannya di Jalan Peneleh Surabaya adalah pendiri surat kabar Oetoesan Hindia pada tahun 1913. Beliau juga mendirikan surat kabar Fadjar Asia pada 1927. Koran itu dimanfaatkan untuk memperjuangkan ideologi Sarekat Islam terutama untuk membangun kesadaran politik untuk melawan penjajah menuju kemerdekaan,” ujar CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE itu.

Menurut Mas’ud Adnan, bahkan semua para pejuang kemerdekaan Indonesia adalah tokoh yang identik dengan pers. “Semua tokoh kemerdekaan seperti Kiai A Wahid Hasyim, , , Sjahrir, aktif menulis dan menuangkan pemikirannya di media massa.

“Karena tanpa pers, sehebat apapun pemikiran dan perjuangan mereka, sulit diketahui publik. Karena itu agar pemikiran dan perjuangan mereka menimbulkan resonansi tinggi dan besar dalam masyarakat harus diekspose lewat media atau pers,” ujar Mas’ud Adnan.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO