Kemarau 2026, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Suhu Ekstrem

Kemarau 2026, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Suhu Ekstrem Ilustrasi. Foto: Ist

BANGSAONLINE.com - melaporkan musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026. Namun, sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat dinamika atmosfer.

menyebut kondisi atmosfer di Indonesia bagian selatan semakin menunjukkan karakteristik kemarau, ditandai meningkatnya jumlah hari tanpa hujan. Sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami periode tanpa hujan dalam kategori menengah hingga sangat panjang.

“Durasi hari tanpa hujan di beberapa wilayah bahkan mencapai 31 hingga 60 hari berturut-turut. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan musim, sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim (233 ZOM) di Indonesia memasuki musim kemarau,” tulis dalam laporan resmi.

Diingatkan pula bahwa musim kemarau berpotensi memicu kekeringan meteorologis dan berkurangnya ketersediaan air. Masyarakat pun diminta mewaspadai perubahan suhu ekstrem, dengan cuaca lebih panas siang hari dan lebih dingin malam hingga pagi.

Meski kondisi kering mendominasi wilayah selatan, menegaskan potensi hujan belum sepenuhnya hilang. Beberapa wilayah utara masih mencatat curah hujan tinggi, termasuk Sumatra Barat dengan 139 mm per hari, Papua 94 mm per hari, dan Riau 89 mm per hari.

Hujan lebat juga terjadi di Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat. Fenomena atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra dan sekitar Selat Makassar disebut memperkuat pembentukan awan hujan.

“Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan,” demikian laporan yang dikutip dari laporan resminya.

memperkirakan jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan terus bertambah pada Dasarian III Juni 2026. Sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut diperkuat oleh perkembangan El Niño Southern Oscillation (ENSO) fase hangat dengan intensitas moderat. Kendati demikian, menegaskan peluang hujan masih tetap terbuka dalam beberapa hari ke depan. (rom)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'BMKG Beri Pernyataan Tentang Penyebab Panas Terik di Wilayah Indonesia':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO